MAKKAH — — Pada Hari An Nahr (10 Dzulhijjah) para jamaah haji melempar jamrah yang memiliki beberapa hikmah, salah satunya yakni meneladani Nabi Ibrahim Alaihissallam dalam memusuhi, dan tidak menaati setan.

Dikutip dari buku Bekal Haji karya Ustaz Firanda Andirja, Ibnu Abbas meriwayatkan secara marfu:

“Ketika Ibrahim kekasih Allah mendatangi manasik, setan pun muncul menghadang dan menggodanya di Jamratul Aqabah. Maka, Ibrahim pun melemparnya dengan tujuh kerikil hingga setan pun tenggelam ke bumi. Lalu, setan pun menggodanya di jamrah yang kedua. Maka, Ibrahim pun melemparnya dengan tujuh kerikil hingga hilang ditelan bumi. Lalu, setan muncul dan menggoda beliau di jamrah yang ketiga. Maka, Ibrahim pun melemparnya dengan tujuh kerikil hingga menghilang ditelan bumi”.

Ibnu Abbas berkata, الشّشيطان ترجمان وملّةأبيكم تتّبعو ن

“Kalian melempar setan dan kalian mengikuti agama ayah kalian (lbrahim)” hadits riwayat Al Hakim dan al-Baihaqi.

Al-Ghazali berkata, “Adapun melempar jamrah, jadikanlah tujuannya untuk tunduk kepada perintah Allah dengan menampakkan penghambaan dan membudakkan diri kepada-Nya, yaitu dengan semangat bangkit menjalankan perintahnya meskipun tidak memahami dan tidak ada untungnya bagi jiwa. Lalu, niatkan untuk meniru Nabi Ibrahim Alaihissallam saat digoda oleh Iblis yang dilaknat Allah di lokasi tersebut untuk memasukkan syubhat kepada beliau atau untuk menjerumuskan beliau dalam kemaksiatan. Allah memerintah beliau untuk melemparnya dengan batu untuk mengusir dan memutuskan harapannya.

“Jika terbetik dalam benakmu bahwa setan memang menggoda Ibrahim dan disaksikan oleh Ibrahim, lalu Ibrahim pun melemparnya, setan pasti tidak muncul menggodamu. Maka, ketahuilah bahwa pikiran ini dari setan. Dialah yang telah melemparkan pikiran itu kepada hatimu agar jadi malas melempar dan ia mengkhayalkan kepadamu bahwa melempar jamrah merupakan perbuatan yang tidak ada faedahnya dan hanya mirip dengan permainan belaka. Buanglah pikiran tersebut dari dirimu dengan serius dan semangat sehingga menjengkelkan setan. Meskipun secara zahir dirimu sedang melempar kerikil ke jamrah, tetapi pada hakikatnya engkau sedang melempar wajah setan dan mematahkan pundaknya. Hal itu karena tidaklah menjadikan setan jengkel kecuali jika menjalankan perintah Allah sebagai bentuk pengagungan dengan menjalankan perintah-Nya meskipun tidak ada manfaat bagi jiwa dan tidak bisa dipahami” seperti dikutip dari Ihyaa Uluum ad-Diin.