Diangkatnya Muhammad sebagai nabi dan rasul, tidak membuat ajaran yang ia bawa dapat disampaikan dengan mudah. Nabi Muhammad saw selalu mendapat teror dan gangguan dari banyak pihak, termasuk orang-orang terdekatnya.

Dari sekian banyak orang yang benci terhadap Rasulullah saw, Abu Jahal yang tak lain pemuka suku Quraisy, adalah sosok paling depan yang menentang Nabi. Ia terus menghadang upaya dakwah Nabi Muhammad, bahkan tak segan menggunakan kekerasan.

Syekh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury dalam Sirah Nabawiyah menceritakan sebuah kisah ketika Abu Jahal berjumpa dengan Rasulullah kemudian mendengarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Meski mendengar kebenaran, Abu Jahal tidak serta merta beriman, tunduk, dan takut. Ia malah mencaci Rasulullah saw.

Allah berfirman, “Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al-Qur’an) dan tidak mau mengerjakan salat” (QS. Al-Qiyamah: 31)

Ayat di atas diturunkan oleh Allah tidak terlepas dari kelakuan Abu Jahal yang menentang salatnya Rasulullah saw.

Suatu ketika, Abu Jahal menjumpai Nabi Muhammad yang tengah salat di Masjidil Haram di sisi makam Nabi Ibrahim as.

Kemudian, Abu Jahal membentak, “Wahai Muhammad! Bukankah sudah aku larang engkau melakukan ini?”

Karena bertubi-tubi mendapat tekanan, dalam suatu riwayat dikatakan bahwa Nabi Muhammad saw sempat memberi perlawanan kepada Abu Jahal.

Rasulullah membacakan ayat Allah, “Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. Kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu.” (QS. Al-Qiyamah: 34-35)

Meski demikian, Abu Jahal tidak kapok dan tetap mengintimidasi Nabi.

Abu Jahal menyanggah Nabi, “Engkau hendak mengancamku? Wahai Muhammad, Demi Allah! Engkau dan Tuhan-Mu tidak akan sanggup melakukan apa pun. Sesungguhnya akulah orang paling perkasa yang berjalan di antara dua gunung di Makkah ini!”

Pada kesempatan lain Abu Hurairah bercerita, “Abu Jahal pernah berkata, ‘Apakah Muhammad sujud dan menempelkan keningnya di tanah (salat), di depan batang hidung kalian?”

Lalu salah seorang menjawab, “Ya, benar!”. Abu Jahal berkata lagi, “Demi Laata dan ‘Uzza! Sungguh aku akan menginjak-injak lehernya dan membenamkan mukanya ke tanah!”

Hingga akhirnya saat Abu Jahal mendapati Nabi salat, ia tidak bisa melakukan niat buruknya. Justru ia tidak berkutik dan merasa ketakutan.

Saat ditanya oleh salah seorang di dekatnya, Abu Jahal berkata, “Sesungguhnya aku melihat ada parit dari api, sesuatu yang menakutkan dan sayap-sayap yang ada di antara aku dan dia (Muhammad).”

Lalu Rasulullah saw bersabda, “Andai kata dia (Abu Jahal) sedikit lagi mendekat kepadaku, niscaya tubuhnya akan disambar malaikat dan terkoyak-koyak satu per satu.”

Begitulah perilaku buruk Abu Jahal yang sampai akhir hayatnya tidak mendapat hidayah dari Allah dan tetap dalam keadaan hina.

Wallahu a’lam. []