Kisah Fatimah Az Zahra yang Ridha Hidup Sederhana Meski Kotor dan Lusuh

Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam mewarisi akhlak mulianya kepada anak dan cucu tercinta. Salah satunya kepada Fatimah Az Zahra, putri Rasulullah yang memiliki kecantikan dan kemuliaan akhlak yang luar biasa. Kecerdasan dan kesalihannya melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Dikutip dari buku Kitab Fadhilah Amal karya Maulana Muhmmad Zakariyya Al Kandhalawi,  Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu berkata kepada seorang muridnya, “Maukah kuceritakan kepadamu mengenai Fatimah, putri Baginda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, yang sangat Beliau cintai?”

“Tentu,” jawab muridnya.

Lalu Ali bercerita. “Dengan tangannya, Fatimah selalu menggiling gandum, sehingga timbul bekas di tangannya. Ia pun mengisi tempat air sendiri, dan bekasnya terlihat di dadanya. Ia juga menyapu rumah dan bagian-bagian yang lain, sehingga bajunya kotor dan lusuh.”

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mendapatkan beberapa hamba sahaya. Ali pun meminta Fatimah menemui menemui Rasulullah supaya berkenan memberikan hamba sahaya untuk membantu meringkankan pekerjaan Fatimah.

“Pergilah kepada baginda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan mintalah pembantu untuk meringankan pekerjaanmu,” ujar Ali.

Fatimah pun pergi ke majelisnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Di sana banyak sahabat berkumpul, begitu banyak orang.

Dengan sifat yang pemalu ketika datang ke majelis, Fatimah tidak berkata apa-apa. Ia tidak berani menyampaikan maksud kedatangannya kepada ayahhandanya, hingga akhirnya kembali ke rumah.

Keesokan harinya Rasulullah mengunjungi rumah Ali dan berkata kepada Fattimah. “Wahai Fatimah, apakah maksud kedatanganmu kemarin kepadaku?” tanya Rasulullah.

Dikarenakan malu, Fatimah pun hanya bisa diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hingga Ali menjawab pertanyaan Rasulullah.

“Ya Rasulullah, dengan tangannya, Fatimah selalu menggiling gandum, sehingga timbul bekas di tangannya. Ia pun mengisi tempat air sendiri, dan bekasnya terlihat di dadanya. Ia juga menyapu rumah dan bagian-bagian yang lain, sehingga bajunya kotor dan lusuh. Kemarin aku menyuruhnya mendatangi Engkau untuk meminta seorang hamba sahaya?” ungkap Ali.

Dalam riwayat lain Fatimah menceritakan kepada ayahnya bahwa ia bersama suaminya Ali hanya memiliki sebuah alas tidur dari kulit kambing. Malam harinya digunakan untuk tidur, pagi harinya digunakan sebagai alas tempat rumput untuk memberi makan unta.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada mereka berdua, “Wahai putriku, bersabarlah. Selama sepuluh tahun Musa Alaihissalam dan istrinya hanya memiliki satu alas tidur, itu pun mantel Musa. Malam hari mantel itu dihamparkan untuk tidur. Bertawakalah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan tetaplah menyempurnakan kewajibanmu dan pekerjaan rumahmu. Ketika kamu akan berbaring tidur, bacalah Subhannalah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahuakbar 33 kali. Itu lebih baik dari seorang hamba sahaya.”

Fatimah pun berkata, “Aku ridha kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.” (HR Abu Daud, dari kitab Muwathata)

Fatimah selalu ridha akan ketetapan dan ketentuan dari Allah Subhanahu wa ta’ala dan ajaran Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagai seorang pemimpin.

Ia tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga sebagaimana umumnya dengan senang hati. Lalu sebelum tidur bibirnya selalu basah dengan kalimat thoyyibah: Subhannallah, Alhamdulillah, Allahuakbar.

Sebagaimana Rasulullah pernah bersabda, “Setelah selesai sholat hendaknya membaca Subhannallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahuakbar 33 kali.”