Kisah Mush’ab bin Umair, Dai Pertama dalam Islam

Rasulullah semasa hidupnya menggunakan banyak cara untuk berdakwah. Metode dakwah beliau berbeda-beda sesuai dengan kondisi masyarakat yang dihadapinya. Akan tetapi, yang paling penting dari semua itu adalah akhlak. Kebanyakan orang masuk Islam pada waktu itu lantaran pengaruh kebaikan akhlak Rasulullah.

Penyebaran Islam ke berbagai daerah juga dibantu oleh sahabat. Mereka diperintahkan oleh Rasul ke beberapa wilayah yang belum mengenal Islam. Metode Rasul ini disebut dengan pendekatan missi. Maksudnya, Rasulullah mengirim dai ke wilayah-wilayah yang belum mengenal Islam. Tujuannya untuk mengenalkan Islam kepada semesta raya, mengubah penyembah berhala menjadi penyembah Allah semata.

Salah satu sahabat yang diutus Rasulullah untuk berdakwah adalah Mush’ab bin Umair. Dia bisa dikatakan sebagai dai pertama dalam Islam. Pengiriman Mush’ab ini berawal ketika warga Yastrib melangsungkan Baiat Aqabah pertama, mereka meminta kepada Nabi Saw agar dikirimi seorang da’i untuk mengajari mereka agama Islam.

Karena permintaan itu, Nabi mengirim Mush’ab bin Umair ke Yastrib. Terdapat perbedaan pendapat apakah Mush’ab pergi bersama peserta Baiat Aqabah atau menyusul setelahnya, saat surat keperluan mendatangkan da’i tiba.

Ketika sampai di Madinah, Mush’ab tinggal di rumah Sa’ad bin Zurarah. Cara dakwah yang digunakan adalah door to door mengajarkan Al-Qur’an dan agama Islam. Sewaktu musim haji tiba, ia tiba di Mekkah dengan membawa 73 orang Yastrib yang kemudian di bai’at dalam Bai’at Aqabah kedua.

Sebenarnya, Mush’ab adalah seorang pemuda kaya kelahiran Makkah. Ketika jahiliah ia begitu bermewah-mewahan, tatkala ber-Islam semua itu ia tinggalkan. Bahkan, ketika ia gugur di medan Uhud pada umur ke empat puluh, harta satu-satunya yang ia punya adalah baju yang tengah dikenakan ditambah sehelai selimut kecil yang digunakannya sebagai kafan, yang karena kecilnya harus ditambahi dengan rumput.