Allah SWT menurunkan satu surah Al-Qur’an terkait kisahnya, agar hikmah, pelajaran, etika, dan perintah yang ada di dalamnya dijadikan i’tibar (pelajaran). Aku berlindung kepada Allah dari (godaan) setan yang terkutuk. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

“Alif Lam Ra. Ini adalah ayat kitab (Al-Qur’an) yang jelas. Sesungguhnya, Kami menurunkannya sebagai Qur’an berbahasa Arab, agar kamu mengerti. Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui.” (Yusuf: 1-3).

Huruf-huruf potongan di awal surah sudah kita bahas di awal tafsir surah Al-Baqarah. Bagi yang ingin mengetahui secara jelas, silakan dibaca. Surah ini secara utuh juga sudah kita bicarakan di sejumlah tempat dalam kitab tafsir. Berikut akan kami sampaikan kisah ini secara singkat.

Inti penjelasan terkait masalah ini, Allah memuji kisah-Nya yang Ia turunkan kepada hamba dan rasul-Nya dengan bahasa Arab yang fasih dan jelas, dipahami oleh siapa pun yang memiliki akal, cerdas dan suci jiwanya. Al-Qur’an adalah kitab paling mulia yang turun dari langit. Diturunkan oleh malaikat yang paling mulia kepada manusia paling mulia, diwaktu dan tempat paling mulia, dengan bahasa paling fasih dan jelas.

Untuk kisah-kisah masa lalu ataupun yang akan datang. Al-Qur’an menyampaikannya dengan sangat baik dan jelas, memperlihatkan kebenaran yang diperselisihkan manusia, menolak dan membantah kebatilan serta kepalsuan yang ada.

Untuk perintah-perintah dan larang-larangan, Al-Qur’an adalah syariat paling adil, manhaj paling jelas, hukum paling jelas sekaligus adil.

Seperti yang Allah firmankan, ” Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur’an) sebagai kalimat yang benar dan adil.” (Al-An’am: 115). Yaitu benar dalam berita-berita yang disampaikan, adil dalam perintah dan larangan.

Karena itu Allah SWT berfirman, ” Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui.” (Yusuf: 3).

Seperti yang Allah firmankan dalam surah berbeda, “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur’an) sebagai kalimat yang benar dan adil.” (Al-An’am: 115). Yaitu benar dalam berita-berita perintah dan larangan.

Diturunkan oleh malaikat yang paling mulia kepada manusia yang paling mulia, di waktu dan tempat yang paling mulia, dengan bahasa paling fasih dan jelas.

Untuk kisah-kisah masa lalu ataupun yang akan datang. Al-Qur’an menyampaikannya dengan sangat baik dan jelas, memperlihatkan kebenaran yang diperselisihkan manusia, menolak dan membantah kebatilan serta kepalsuan yang ada.

Untuk perintah-perintah dan larangan-larangan, Al-Qur’an adalah syariat paling adil, manhaj paling jelas, hukum paling jelas sekaligus adil.

Seperti yang Allah firmankan, ” Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur’an) sebagai kalimat yang benar dan adil,” (Al-An’am: 115). Yaitu benar dalam berita-berita yang disampaikan, adil dalam perintah dan larangan.

Karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ” Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yangtidak mengetahui.” (Yusuf: 3).

Seperti yang Allah firmankan dalam surah berbeda, ” Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur’an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus, (yaitu) jalan Allah yang milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, segala urusan kembali kepada Allah.” (Asy-Syura: 51-53).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ” Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah (umat) yang telah lalu dan sungguh, telah Kami berikan kepadamu suatu peringatan (Al-Qur’an) dari sisi Kami. Barangsiapa berpaling darinya (Al-Qur’an), maka sesungguhnya dia akan memikul beban yang berat (dosa) pada hari Kiamat, mereka kekal di dalam keadaan itu. Dan sungguh buruk beban dosa itu bagi mereka pada hari Kiamat.” (Asy-Syura: 99-101).

Yaitu, siapa berpaling dari Al-Qur’an dan mengikuti kitab-kitab lain, ancaman di atas berlaku baginya, seperti yang disebutkan dalam hadist yang diriwayatkan dalam Al-Musnad dan Sunan At-Tirmidzi dari Amirul Mukminin Ali secara marfu’ dan mauquf, “Si apa mencari petunjuk dari selainnya (Al-Qur’an), Allah menyesatkannya.”

Imam Ahmad menuturkan, “Suraj bin Nu’man bercerita kepada kami, Hisyam bercerita kepada kami. Khalid memberitakan kepada kami dari Asy-Sya’bi, dari Jabir, suatu ketika Umar bin Khaththab datang menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau marah dan berkata, ‘Apa kalian bingung (dalam menjalankan syariat Islam sampai kalian mengambil ajaran dari Yahudi), wahai Ibnu Khaththab? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya , sungguh aku telah membawakannya (syariat) dalam keadaan putih dan bersih. Jangan sampai kalian bertanya kepada mereka (Yahudi) tentang apa pun lalu mereka menyampaikan kebenaran, kemudian kalian mendustakan (kebenaran) itu, atau (mereka menyampaikan) suatu kebatilan pada kalian lalu kalian percayai. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, andai Musa hidup, ia tidak bisa berbuat apa pun selain mengikuti (syariat)ku’.” Sanadnya shahih. [1]

Ahmad juga meriwayatkan hadist ini melalui jalur lain dari Umar, disebutkan; Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian mengatakan, ” Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, andai Musa berada di tengah-tengah kalian, lalu kalian mengikutinya dan meninggalkanku, kalian tentu tersesat. Kalian adalah umatku dan aku adalah nabi kalian‘.” [2]

Jalur-jalur riwayat hadist ini juga bentuk-bentuk matannya sudah disebutkan di bagian awal surah Yusuf. Sebagian matan hadist menyebutkan; Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan khotbah di hadapan khalayak, dalam khutbahnya beliau mengatakan, ” Wahai semuanya! Sungguh, aku diberi jawami’ul kalim (singkat kata namun dalam makna) dan penutup-penutupnya, (wahyu disampaikan kepadaku) seringkas mungkin, dan aku telah menyampaikannya kepada kalian dalam kondisi putih bersih, maka janganlah kalian bingung. Jangan sampai orang-orang bingung membuat kalian terpedaya .” setelah itu, beliau memerintahkan seluruh isi lembaran-lembaran tersebut untuk dihapus huruf demi huruf. [3]

Yusuf Mendapatkan Tugas Kenabian

( Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, ‘Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.’ Dia (ayahnya) berkata, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan)mu. Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia.’ Dan demikianlah, Rabb memilih engkau (untuk menjadi Nabi) dan mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi dan menyempurnakan (nikmat-Nya) kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kedua orang kakekmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishaq. Sungguh, Rabbmu Maha Mengetahui, Mahabijaksana’.” (Yusuf: 4-6).

Seperti telah kami sampaikan sebelumnya, Ya’qub memiliki sebelas anak, semuanya lelaki. Nama-nama mereka semua sudah kami sebutkan sebelumnya, dan mereka adalah nenek moyang Bani Israil. Yang paling mulia dan agung di antara anak-anak Ya’qub adalah Yusuf.

Sekelompok ulama berpendapat, di antara anak-anak Ya’qub tidak ada yang menjadi nabi selain Yusuf. Seluruh saudaranya tidak ada yang diberi wahyu.

Kisah tentang sikap dan tutur kata saudara-saudara Yusuf semuanya nabi, bersandar pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Katakanlah, ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak-anaknya.” (Ali ‘Imran: 84). Ia menyatakan, mereka adalah anak-anak Ya’qub. Kesimpulan dalil ini lemah, karena yang dimaksud keturunan dalam ayat ini adalah bangsa Bani Israil dan para nabi yang ada di tengah-tengah mereka yang diberi wahyu dari langit. Wallahu a’lam.

Alasan lain yang menguatkan Yusuf adalah satu-satunya yang diberi risalah dan nubuwah di antara seluruh saudaranya; nash yang ada tidak menyebut satu pun saudara Yusuf, selain Yusuf sendiri. Ini memperkuat pendapat kami.

Pendapat ini juga diperkuat oleh riwayat Imam Ahmad; Abdush Shamad bercerita kepada kami, Abdurrahman bercerita kepada kami, dari Abdullah bin Dinar, dari ayahnya, dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Orang mulia, anak orang mulia, anak orang mulia; Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.” [1]

Hanya Imam Bukhari yang meriwayatkan hadist ini. Ia meriwayatkan hadist ini dari Abdullah bin Muhammad bin Abdah dari Abdush Shamad bin Abdul Warits dengan matan yang sama. Jalur-jalur riwayat ini sudah kami sebutkan dalam kisah Ibrahim, sehingga tidak perlu diulang lagi di sini. Segala puji dan karunia hanya milik Allah semata.

Para mufassir dan kalangan lain menuturkan, “Yusuf saat masih kecil dan belum baligh, bermimpi, seakan-akan sebelas bintang sebagai isyarat kesebelas saudaranya, matahari dan bulan, keduanya mengisyaratkan kedua orangtuanya, mereka semua bersujud kepadanya. Yusuf tercengang karena hal itu.

Saat bangun, Yusuf menceritakan mimpi itu kepada ayahnya. Ayahnya mengerti, kelak Yusuf akan meraih kedudukan tinggi di dunia dan akhirat, karena ayah dan seluruh saudaranya akan tunduk padanya dalam kedudukan itu. Ayahnya memerintahkan Yusuf agar menyembunyikan mimpi itu dan tidak ia ceritakan kepada saudara-saudaranya, agar mereka tidak hasad, berbuat lalim, dan melakukan berbagai tipu daya kepadanya.”

Ini memperkuat pendapat kami di atas (hanya Yusuf yang menjadi nabi di antara seluruh saudaranya).

Karena itu dalam salah satu atsar disebutkan, “Tunaikan kebutuhan saudara-saudara kalian dengan sembunyi-sembunyi, karena setiap orang yang memiliki nikmat itu pasti didengki.” [2]

Versi Ahli Kitab, Yusuf menceritakan mimpi itu kepada ayah dan saudara-saudaranya. Ini keliru.

“Dan demikianlah, Rabb memilih engkau (untuk menjadi Nabi),” yaitu sebagaimana Ia telah memperlihatkan impian agung itu kepadamu, karena itu sembunyikan dan jangan kau ceritakan mimpi itu, ” Rabb memilih engkau (untuk menjadi Nabi),” yaitu mengkhususkan berbagai kelembutan dan rahmat padamu, ” Dan mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi,” yaitu membuatmu bisa memahami makna-makna kalam dan takwil mimpi yang tidak bisa dipahami orang lain.

Dan menyempurnakan (nikmat-Nya) kepadamu,” yaitu dengan wahyu yang diberikan kepadamu, ” Dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kedua orang kakekmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishaq,” yaitu Ia memberi nikmat padamu berupa nubuwat dan memperlakukanmu dengan baik, seperti halnya nikmat yang sama juga telah diberikan kepada ayahmu. Ya’qub, kakekmu, Ishaq, dan ayah kakekmu, Ibrahim Al-Khalil, ” Sungguh, Rabbmu Maha Mengetahui, Mahabijaksana,” seperti yang Allah sampaikan, ” Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (Al-An’am: 124).

Karena itu saat ditanya, “Siapa manusia yang paling mulia?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Yusuf Nabi Allah, putra Nabi Allah, putra Nabi Allah, putra kekasih Allah.”

Nama Bintang yang Sujud kepada Nabi Yusuf

Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dalam kitab tafsir masing-masing juga Abu Ya’la dan Bazzar dalam kitab Musnad masing-masing, dari hadist Hakam bin Zhahir, hadist ini dinyatakan dhaif oleh para imam hadist, dari As-Suddi dari Abdurrahman bin Sabith, dari Jabir, ia menuturkan, “Seorang Yahudi bernama Bustanah datang menemui Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu berkata, ‘Hai Muhammad! Beritahukan padaku tentang bintang-bintang yang sujud pada Yusuf seperti dalam mimpinya apa saja nama-namanya?’

Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam diam tidak menjawab, lalu Jibril memberitahukan nama bintang-bintang itu. Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian mendatangi di Yahudi itu dan berkata, ‘Apakah kau akan beriman kepadaku jika aku beritahukan nama bintang-bintang itu kepadamu?’ ‘Ya.’ Jawabnya. Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian menyebutkan nama-namanya, ‘(Nama-namanya adalah) Jaryan, Thariq, Dzayyal, Dzul Katifan, Qabis, Watstsab, Amudan, Faliq, Mushbih, Sharuh, Dzul Furu’, Dhiya’ dan Nur’.

Si yahudi itu kemudan mengatakan, ‘Demi Allah, itulah nama-namanya’.” Riwayat Abu Ya’la menyebutkan, saat Yusuf mengisahkan mimpi itu kepada ayahnya, ayahnya berkata, ‘Ini adalah urusan yang tercerai-berai yang disatukan Allah.’ Matahari takwilnya ayah dan bulan takwilnya ibu’.” [3]

Rencana Pembunuhan Yusuf

“Sungguh, dalam (kisah) Yusuf dan saudara-saudaramya terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang bertanya. Ketika mereka berkata, ‘Sesungguhnya, Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai ayah daripada kita, padahal kita adalah satu golongan (yang kuat). Sungguh, ayah kita dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat agar perhatian ayah tertumpah kepadamu, dan setelah itu kamu menjadi orang yang baik.’ Seorang di antaran mereka berkata, ‘Janganlah kamu membunuh Yusuf, tetapi masukan saja dia ke dasar sumur agar dia dipungut oleh sebagiaj musafir, jika kamu hendak berbuat’.” (Yusuf; 7-10).

Allah mengingatkan sejumlah tanda kebesaran, hikmah, petunjuk dan pelajaran di balik kisah ini. Selanjutnya Allah menuturkan tentang sifat hasad saudara-saudara Yusuf terhadap Yusuf, karena ia dan saudaranya, maksudnya saudara seibu Yusuf. Bunyamin, lebih dicintai ayahnya melebihi mereka, padahal mereka berjumlah lebih banyak, mereka mengatakan, “Kami lebih berhak dicintai dari dua anak itu. ‘ Sungguh, ayah kita dalam kekeliruan yang nyata,’ yaitu karena lebih mencintai keduanya dari pada kami’.”

Setelah itu mereka berunding, dan memutuskan untuk membunuh atau mengasingkan Yusuf ke sebuah negeri yang membuatnya tidak kembali lagi, agar perhatikan ayah tertuju sepenuhnya kepada mereka. Maksudnya, agar ayah hanya mencintai mereka saja, dan setelah itu mereka berniat untuk bertobat.

Setelah mereka bersekongkol dan sepakat untuk melaksanakan rencana itu, ” Seorang di antara mereka berkata,” Mujahid menyatakan, ” Dia adalah Syam’un.” As-Suddi menyatakan, “Dia adalah Yahudza.” Qatadah dan Muhammad bin Ishaq menyatakan, ” Dia adalah anak paling tua, Rubil.” ” Janganlah kamu membunuh Yusuf, tetapi masukan saja dia ke dasar sumur agar dia dipungut oleh sebagian musafir,” yaitu musafir yang berlalu, ” Jika kamu hendak berbuat,” apa yang kalian katakan tidaklah mustahil untuk dilakukan. Lakukan saja apa yang akan aku sampaikan kepada kalian, ini lebih tepat bagi kalian; membunuh atau mengasingkan Yusuf.

Mereka menyepakati keputusan itu. Saat itu,

Mereka berkata, ‘Wahai ayah kami! Mengapa engkau tidak memercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami semua menginginkan kebaikan baginya. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia bersenang-senangdan bermain-main, dan kami pasti menjaganya.’ Dia (Ya’qub) berkata, ‘Sesungguhnya, kepergian kamu bersama dia (Yusuf) sangat menyedihkanku dan aku khawatir dia dimakan serigala, sedang kamu lengah darinya.’ Sesungguhnya, mereka berkata, ‘Jika dia dimakan serigala, padahal kami golongan (yang kuat), kalau demikian tentu kami orang-orang yang rugi’.” ( Yusuf: 11-14).

Mereka meminta ayah mereka untuk membiarkan Yusuf ikut pergi bersama mereka. Mereka menyatakan, mereka ingin agar Yusuf pergi menggembala bersama mereka, bermain dan bercanda, padahal mereka menyembunyikan niat jahat dalam hati, hanya Allah yang mengetahui rencana itu.

Ayah memenuhi permintaan mereka dan berkata, “Wahai anak-anakku! Sungguh berat bagiku untuk berpisah dengannya meski hanya untuk sesaat saja. Selain itu, aku khawatir jika kalian lalai saat bermain dan saat kalian serius melakukan sesuatu, tiba-tiba serigala datang menerkamnya, sementara ia tidak mampu mengelak karena masih kecil dan kalian lalai untuk menjaganya’.”

“Sesungguhnya, mereka berkata, ‘Jika dia dimakan serigala, padahal kami golongan (yang kuat), kalau demikian kami orang-orang yang rugi’.” Yaitu jika serigala menerkam lalu memakannya di hadapan kami atau kami lengah untuk menjaganya hingga hal itu terjadi padahal kami golongan yang kuat, tentu kami orang-orang yang rugi, yaitu lemah dan binasa.

Menurut versi Ahli Kitab, Ya’qub mengikuti mereka dari belakang namun tersesat di tengah jalan hingga ada seseorang menunjukkan jalan menuju tempat anak-anaknya berada.

Ini juga kekeliruan mereka dalam menuturkan kisah ini, karena Ya’qub sangat mengkhawatirkan keselamatan Yusuf ketika diajak pergi bersama saudara-saudaranya. Lantas bagaimana mungkin jika Ya’qub membiarkan Yusuf pergi seorang diri.

Yusuf Dilempar ke Dalam Sumur

Maka ketika mereka membawanya dan sepakat memasukkan dasar sumur, Kami mewahyukan kepadanya, ‘Engkau kelak pasti akan menceritakan perbuatan ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari.’ Kemudian mereka datang kepada ayah mereka pada petang hari sambil menangis. Mereka berkata, ‘Wahai ayah kami! Sesungguhnya, kami pergi berlomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan engkau tentu tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami berkata benar.’ Dan mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) darah palsu. Dia (Ya’qub) berkata, ‘Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu; maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan’.” ( Yusuf: 15-18).

Mereka terus mendesak ayah mereka hingga akhirnya si ayah membiarkan Yusuf pergi bersama mereka. Begitu mereka sudah jauh dan tidak terlihat oleh sang ayah. Mereka langsung mencela dan memperlakukannya secara hina, baik dengan tindakan maupun ucapan.

Mereka sepakat untuk memasukkan Yusuf ke dalam sumur. Maksudnya, di tengah batu besar yang ada di dalam sumur ketika airnya surut, tempat yang menjadi pijakan turun ke dalam sumur guna mengambil air saat airnya, atau dengan timba.

Setelah mereka memasukkan Yusuf ke dalam sumur, Allah memberi ilham kepada Yusuf, “Pasti ada jalan keluar bagimu dari kesulitan yang kau hadapi ini. Kelak, kau akan memberitahukan perbuatan ini kepada saudara-saudaramu saat kau telah menjadi seorang penguasa, saat mereka memerlukan bantuanmu dan takut padamu, ” Sedang mereka tidak menyadari.”

Mujahid dan Qatadah menyatakan, “Sedang mereka tidak menyadari ilham yang Allah berikan kepadamu.” Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ” Sedang mereka tidak menyadari,” yaitu kelak kau akan memberitahukan hal ini kepada mereka, saat mereka tidak mengenalimu ( HR. Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas).

Setelah diletakkan di dalam sumur, mereka pulang meninggalkannya, mereka mengambil bajunya lalu mereka lumuri dengan darah, mereka pulang pada petang hari dengan menangisi Yusuf. Karena itu sebagian salaf menyatakan, “Jangan tertipu oleh tangisan orang yang berpura-pura dizalimi, karena bisa jadi yang menangis justru orang yang berbuat lalim,” setelah itu ia menyebut tangisan saudara-saudara Yusuf. Mereka pulang menemui ayah mereka pada petang hari dengan menangis, yaitu di tengah gelapnya malam, agar selaras dengan pengkhianatan yang mereka lakukan, bukan alasan yang mereka kemukakan.

Mereka berkata, ‘Wahai ayah kami! Sesungguhnya, kami pergi berlomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami,” yaitu di dekat baju-baju kami, ” Lalu dia dimakan serigala,” yaitu saat kami tidak melihatnya karena kami tengah bermain kejar-kejaran. ” Dan engkau tentu tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami berkata benar,” yaitu kau tentu tidak percaya kepada kami terkait apa yang kami sampaikan kepadamu bahwa Yusuf dimakan serigala, meski kami tidak engkau curigai. Lalu bagaimana engkau menuduh kami (berbuat jahat) dalam keadaan ini? Sebelumnya, engkau khawatir jika Yusuf dimakan serigala, lalu kami berjanji kepadamu Yusuf tidak akan dimakan serigala karena jumlah kami banyak, lalu kami menjadi tidak dipercaya. Ayah bisa dimaklumi jika tidak percaya kepada kami karena kondisinya memang seperti itu.

Dan mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) darah palsu,” yaitu darah dusta yang dibuat-buat, karena mereka menyembelih seekor kambing, lalu mereka ambil darahnya dan mereka lumurkan di baju Yusuf untuk mengelabui ayah mereka bahwa Yusuf benar-benar telah dimakan serigala. Para mufasir menyatakan, “Mereka lupa tidak merobek-robek baju itu, karena petaka dusta adalah lupa.” Saat tanda-tanda kecurigaan nampak, ayah mereka mulai memahami apa sebenarnya yang telah mereka perbuat, karena sang ayah mengerti betul mereka memusuhi dan dengki terhadap Yusuf.

Hal ini karena sang ayah lebih mencintainya melebihi mereka, mengingat Yusuf sudah memiliki tanda-tanda keluhuran dan wibawa besar sejak ia masih kecil, di samping nubuwat yang akan Allah berikan kepadanya secara khusus, juga karena mereka merayu sang ayah untuk membawa pergi Yusuf. Begitu mereka berhasil membawa Yusuf pergi, mereka segera menghilangkan dan melenyapkan Yusuf agar tidak lagi terlihat di mata ayahnya, setelah itu mereka pulang dengan pura-pura menangis. Juga karena persengkongkolan dan kesepakatan jahat yang mereka lakukan. Karena itu Ya’qub berkata, ” Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu, maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.”

Menurut versi Ahli Kitab, Rubil menyarankan untuk meletakkan Yusuf di dalam sumur agar setelah itu Rubil ambil kembali tanpa disadari oleh saudara-saudara lainnya, dan setelah itu ia kembalikan lagi kepada ayahnya. Namun mereka lalai dan menjual Yusuf kepada kafilah dagang yang berlalu. Setelah itu Rubil kembali ke sumur tersebut pada sore hari untuk mengeluarkan Yusuf, ternyata Yusuf sudah tidak ada. Rubil berteriak dan merobek bajunya. Mereka kemudian menghampiri seekor kambing lalu mereka sembelih, darah kambing itu kemudian mereka lumurkan ke baju Yusuf. Saat Ya’qub diberitahu, ia merobek bajunya dan mengenakan sarung hitam, larut dalam kesedihan selama berhari-hari karena kehilangan Yusuf.

Kisah lemah ini bersumber dari kekeliruan Ahli Kitab dalam menuturkan dan menggambarkan kisah sebenarnya.

Dan datanglah sekelompok musafir, mereka menyuruh seorang pengambil air. Lalu dia menurunkan timbanya. Dia berkata, ‘Oh senangnya, ini ada seorang anak muda!’ Kemudian mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan mereka menjualnya (Yusuf) dengan harga rendah, yaitu beberapa dirham saja, sebab mereka tidak tertarik kepadanya. Dan orang dari Mesir yang membelinya berkata kepada istrinya. ‘”erikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak”. Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. (Yusuf : 19-21).

Yusuf Diperjual-Belikan Sebagai Budak

“Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita pungut dia sebagai anak. ‘Dan demikianlah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di negeri (Mesir) dan agar Kami ajarkan kepadanya takwil mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti. Dan ketika dia telah cukup dewasa Kami berikan kepadanya kekuasaan dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik’.” ( Yusuf: 19-22).

Allah menuturkan kisah Yusuf saat diletakkan di dalam sumur, ia duduk menantikan jalan keluar dan kelembutan Allah terhadapnya. Akhirnya, musafir pun datang melintas. Ahli kitab menuturkan; barang-barang yang mereka bawa adalah kacang tanah, biji cemara, dan biji hijau, mereka datang dari Syam menuju Mesir. Mereka mengirim sebagian rombongan untuk mengambil air di sumur tersebut. Saat sebagian dari mereka memasukkan timba di dalam sumur, Yusuf bergantungan pada timba itu.

Saat melihatnya, orang yang menimba mengatakan, ” Oh senangnya,” yaitu duhai senangnya, ” Ini ada seorang anak muda! Kemudian mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan,” yaitu mereka mengira Yusuf sebagai bagian dari barang dagangan, ” Dan Alla Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan,” yaitu Allah Maha Mengetahui persengkongkolan saudara-saudara Yusuf terhadapnya, Maha Mengetahui rasa senang orang-orang yang menemukannya karena bisa mereka jual sebagai barang dagangan.

Meski demikian, Allah tidak mengubah ketetapan untuk Yusuf, karena dibalik kejadian itu terdapat hikmah agung. Takdir yang telah terdahulu dan kasih sayang terhadap penduduk Mesir melalui takdir yang Allah jalankan melalui sosok Yusuf kecil yang memasuki Mesir sebagai tawanan. Kemudian setelah itu Yusuf memegang kendali urusan-urusan besar, dan melalui sosok Yusuf, Allah memberikan manfaat pada penduduk Mesir, baik manfaat dunia maupun akhirat yang tak terbatas dan terbayangkan.

Setelah saudara-saudara Yusuf merasa bahwa rombongan musafir tersebut telah mengambil Yusuf, mereka segera menyusul para musafir tersebut, mereka berkata, “Dia ini anak budak kami yang melarikan diri.” Mereka kemudian menjual Yusuf dengan harga murah. ” Yaitu beberapa dirham saja, sebab mereka tidak tertarik kepadanya.”

Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Nauf Al-Bakkali [1], As-Suddi, Qatadah, Athiyah Al-Aufa menuturkan, “Mereka menjual Yusuf seharga 20 dirham, lalu mereka bagi satu orang dua dirham.” Mujahid mengatakan, “20 dirham.” Ikrimah dan Muhammad bin Ishaq mengatakan, “Empat puluh dirham.” Wallahu a’lam.

“Dan orang dari Mesir yang membelinya berkata kepada istrinya, ‘Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik,” yaitu perlakukan dia dengan baik, ” Mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita pungut dia sebagai anak,” inilah salah satu wujud kelembutan, kasih sayang, dan perlakuan baik Allah kepada Yusuf, karena Allah menghendaki untuk mempersiapkan dan memberikan kebaikan dunia akhirat pada Yusuf.

Para mufassir menuturkan, “Penduduk Mesir yang membeli Yusuf adalah pemimpin, tepatnya salah seorang menteri Mesir, seluruh harta simpanan dan kekayaan Mesir diserahkan kepadanya.” Ibnu Ishaq menuturkan, “Namanya Isthafir bin Ruhain. Raja Mesir saat itu adalah Rayyan bin Walid, seseorang berasal dari kabilah Amaliq. Nama istri menteri Mesir tersebut adalah Ra’il binti Ramayil.” Yang lain menyatakan, “Namanya Zulaikha.” Sepertinya, Zulaikha adalah julukannya. Yang lain menyebut Faka binti Yanus. Demikian diriwayatkan Ats-Tsa’labi dari Ibnu Hisyam Ar-Rifa’i.” [2]

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Muhammad bin Sa’ib, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas; nama orang yang menjual Yusuf di Mesir, yaitu orang yang mendatangkan Yusuf ke Mesir lalu ia jual, adalah Malik bin Za’ar bin Nuwait bin Madiyan bin Ibrahim. Wallahu a’lam.

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Abu Ubaidah dari Ibnu Mas’ud, ia mengatakan, “Orang yang paling tajam firasatnya ada tiga; penguasa Mesir saat berkata kepada istrinya, ‘ Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik,’ wanita yang berkata kepada ayahnya tentang Musa, ‘ Wahai bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.’ ( Al-Qashash: 27), dan Abu Bakar Ash-Shiddiq kala menunjuk Umar bin Khaththab sebagai penggantinya’.”

Ada yang menyatakan, penguasa Mesir membeli Yusuf dengan harga 20 dinar. Yang lain menyebut senilai minyak kasturi. Ada juga yang menyebut senilai satu baju sutera. Ada pula yang menyebut senilai sekian perak. Wallahu a’lam.

Anugerah dari Allah yang Diberikan kepada Yusuf

Firman-Nya, ” Dan demikianlah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di negeri (Mesir),” yaitu Kami takdirkan penguasa Mesir dan istrinya untuk berbuat baik dan memperhatikan Yusuf, seperti itu pula Kami memberikan kedudukan baik kepadanya di negeri Mesir, ” Dan agar Kami ajarkan kepadanya takwil mimpi,” yaitu Kami membuatnya memahami takwil mimpi, ” Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya,” yaitu ketika Allah menghendaki sesuatu, Allah menakdirkan sebab-sebab dan sejumlah hal yang tidak diketahui manusia. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti.”

“Dan ketika dia telah cukup dewasa Kami berikan kepadanya kekuasaan dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,” ini menunjukan, semua kejadian di atas terjadi saat Yusuf belum dewasa, yaitu seumuran 40 tahun, karena dalam usia ini Allah menyampaikan wahyu kepada para nabi.

Para mufassir berbeda pendapat terkait usia Yusuf ketika menginjak dewasa. Malik, Rabi’ah, Zaid bin Aslam, dan Asy-Sya’bi menyatakan, yaitu ketika Yusuf baligh. Sa’id bin Jubair berpendapat, saat Yusuf berusia 18 tahun. Adh-Dhahhak menyebut 20 tahun. Ikrimah menyebut 25 tahun. Ash-Suddi menyebut 30 tahun. Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah menyebut 33 tahun. Hasan menyebut 40 tahun. Pendapat ini dikuatkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluhan tahun.” ( Al-Ahqaf: 46).

Yusuf Digoda oleh Istri Tuannya

Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, ‘Marilah mendekat kepadaku.’ Yusuf berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.’ Sesungguhnya, orang yang zalim itu tidak akan beruntung. Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya.

Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih. Dan keduanya berlomba menuju pintu dan perempuan itu menarik baju gamisnya (Yusuf) dari belakang hingga koyak dan keduanya mendapati suami perempuan itu di depan pintu. Dia (perempuan itu) berkata, ‘Apakah balasan terhadap orang yang bermaksud buruk terhadap istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan siksa yang pedih?’ Dia (Yusuf) berkata, ‘Dia yang menggodaku dan merayu diriku.’

Seorang saksi dari keluarga perempuan itu memberikan kesaksian, ‘Jika baju gamisnya koyak di bagian depan, maka perempuan itu benar, dan dia (Yusuf) termasuk orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar”. Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah diantara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar”. (Hai) Yusuf: “Berpalinglah dari ini, dan (kamu hai isteriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah”. (Yusuf: 23-29)

Allah menuturkan godaan yang dilakukan istri penguasa Mesir itu kepada Yusuf dan meminta Yusuf melakukan sesuatu yang tidak patut dengan kondisi dan kedudukannya. Istri penguasa Mesir itu sangat cantik, memiliki banyak harta, kedudukan dan masih muda. Ia menutup pintu-pintu rumah, bersiap dan berdandan untuk merayu Yusuf, mengenakan pakaian terbaik dan paling mewah yang ia miliki, di samping itu ia adalah istri seorang menteri. Ibnu Ishaq menyatakan, “Ia adalah putri saudari Raja Rayyan bin Walid, raja Mesir.”

Selain itu, Yusuf juga seorang pemuda yang sangat tampan lagi menawan. Namun karena ia adalah seorang nabi, berasal dari keturunan para nabi, akhirnya Allah melindungi Yusuf dari perbuatan keji, melindunginya dari tipu daya wanita. Ia adalah pemimpin para pemimpin terpandang, salah satu diantara tujuh orang bertakwa (yang mendapat naungan Allah) yang disebutkan dalam kitab Shahihain dari para nabi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dalam sabda yang beliau sampaikan dari Rabb bumi dan langit, “(Ada) tujuh golongan, Allah menaungi mereka di bawah naungan-Nya pada hari tiada naungan selain naungan-Nya; pemimpin adil, orang yang mengingat Allah seorang diri lalu kedua matanya berlinang, orang yang hatinya merindukan masjid ketika keluar darinya hingga ia kembali lagi, dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena-Nya, seseorang yang menyedekahkan sesuatu, lalu ia sembunyikan hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, dan lelaki yang diajak (berbuat zina) seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, tapi ia mengatakan, ‘Sungguh, aku takut kepada Allah’.” [1]

Intinya, istri seorang menteri Mesir mengajak Yusuf (berbuat keji) dan memintanya dengan sangat. Yusuf kemudian berkata, ” Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku,” maksudnya suami wanita tersebut, di pemilik rumah, tuanku, ” Telah memperlakukan aku dengan baik,” yaitu ia telah memperlakukan diriku dengan baik dan memuliakan kedudukanku di sisinya, ” Sesungguhnya, orang yang zalim itu tidak akan beruntung.”

“Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya,” firman ini sudah kita bahas dalam kitab tafsir secara memadai.

Sebagian besar pernyataan para mufassir terkait hal ini bersumber dari kitab-kitab Yahudi dan Nasrani. Lebih baik jika masalah ini tidak perlu kita bahas.

Yang wajib kita yakini adalah; Allah melindungi, membebaskan, dan menjauhkan Yusuf dari perbuatan nista. Karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ” Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih.”

“Dan keduanya berlomba menuju pintu,” Yusuf lari meninggalkan wanita itu menuju pintu agar bisa keluar dan lari menjauh darinya, namun wanita itu mengejar Yusuf, ” Dan keduanya mendapati suami perempuan itu di depan pintu,” perempuan itu langsung berkata kepada suaminya dan menghasutnya agar menghukum Yusuf, ” Dia (perempuan itu) berkata, ‘Apakah balasan terhadap orang yang bermaksud buruk terhadap istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan siksa yang pedih?” Ia menuduh Yusuf padahal dia yang sebenarnya tertuduh. Si perempuan tersebut membela kehormatannya dan membersihkan namanya, karena itu Yusuf berkata, ” Dia yang menggodaku dan merayu diriku,” kebenaran perlu disampaikan saat diperlukan.

Seorang saksi dari keluarga perempuan itu memberikan kesaksian,” menurut salah satu pendapat, saksi tersebut masih kecil dan masih digendong. Demikian yang dinyatakan Ibnu Abbas, juga meriwayatkan dari Abu Hurairah, Hilal bin Yasaf, Hasan Al-Bashri, Sa’id bin Jubair, Dhahhak, dan dipilih Ibnu Jarir. Terkait saksi ini, ada sebuah hadist marfu’ diriwayatkan dari Ibnu Abbas, sementara yang lain menyebut mauquf, hanya sampai Ibnu Abbas saja. [2]

Sumber lain menyebutkan saksi tersebut adalah seorang lelaki di dekat Qathfir, suami si perempuan. Yang lain menyebutkan seorang lelaki di dekat si perempuan. Kalangan yang menyatakan bahwa saksi tersebut seorang lelaki adalah Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid, Hasan, Qatadah, As-Suddi, Muhammad bin Ishaq, dan Zaid bin Aslam.

Saksi itu mengatakan, ” Jika baju gamisnya koyak di bagian depan maka perempuan itu benar, dan dia (Yusuf) termasuk orang yang dusta,” artinya, Yusuf yang menggoda, lalu si wanita tersebut mendorong Yusuf hingga bagian depan bajunya koyak. ” Dan jika baju gamisnya koyak di bagian belakang, maka perempuan itulah yang dusta, dan dia (Yusuf) termasuk orang yang benar,” yaitu karena Yusuf melarikan diri dari perempuan tersebut, lalu si perempuan mengerjar dan memegangi baju Yusuf, hingga bajunya terkoyak dari belakang. Dan seperti itulah kejadiannya. Karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ” Maka ketika dia (suami perempuan itu) melihat baju gamisnya (Yusuf) koyak di bagian belakang, dia berkata, ‘Sesungguhnya, ini adalah tipu dayamu. Tipu dayamu benar-benar hebat,” yaitu tindakan ini adalah tipu dayamu, kau yang telah menggoda Yusuf, tapi kau menuduh Yusuf yang bukan-bukan.

Sikap Tuan Aziz terhadap Istrinya

Suaminya kemudian menutup lembaran kejadian ini dengan mengatakan, ” Wahai Yusuf! ‘Lupakanlah ini,” yaitu jangan kau katakan pada siapa pun, karena menyembunyikan kejadian seperti ini lebih patut dan lebih baik. Si suami kemudian memerintahkan istrinya untuk memohon ampunan atas dosa yang telah ia lakukan, dan bertobat kepada Allah, Allah menerima tobatnya.

Meski penduduk Mesir menyembah berhala, namun mereka mengetahui hanya Allah semata yang mengampuni dosa dan menyiksa karena dosa. Karena itulah suami si perempuan tersebut mengatakan seperti itu, dan memaafkannya dalam salah satu sisi, mengingat wanita sepertinya wajar jika tidak bisa menahan diri terhadap lelaki setampan Yusuf, namun Yusuf adalah sosok yang menjaga diri terhadap lelaki setampan dirinya dan bersih hari. Si suami itu kemudian berkata kepada istrinya, ” Dan (istriku) mohonlah ampunan atas dosamu, karena engkau termasuk orang yang bersalah.” 

Ketampanan Nabi Yusuf

“Dan perempuan-perempuan di kota berkata, ‘Istri Al-Aziz menggoda dan merayu pelayannya untuk menundukkan dirinya, pelayannya benar-benar membuatnya mabuk cinta. Kami pasti memandang dia dalam kesesesatan yang nyata.’ Maka ketika perempuan itu mendengar cercaan mereka, diundangnyalah perempuan-perempuan itu dan disediakannya tempat duduk bagi mereka, dan kepada masing-masing mereka diberikan sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf), ‘Keluarkanlah (tampakkanlah dirimu) kepada mereka.’ Ketika perempuan-perempuan itu melihatnya, mereka terpesona kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka (tanpa sadar) melukai tangannya sendiri. Seraya berkata, ‘Mahasempurna Allah, ini bukanlah manusia. Ini benar-benar malaikat yang mulia.’

Dia (istri Al-Aziz) berkata, ‘Itulah orangnya yang menyebabkan kamu mencela aku karena (aku tertarik) kepadanya, dan sungguh, aku telah menggoda untuk menundukkan dirinya tetapi dia menolak. Jika dia tidak melakukan apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan menjadi orang yang hina.’ Yusuf berkata, ‘Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh.’ Maka Rabb memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui’.” (Yusuf: 30-34).

Allah menuturkan tentang celaan yang disampaikan wanita-wanita kota setempat dari kalangan istri-istri para menteri, dan putri-putri para pembesar terhadap istri seorang menteri tersebut, karena telah merayu pelayannya dan cintanya yang sangat mendalam padanya, padahal, Yusuf tidak sederajat baginya. Ia hanya salah seorang pelayan, dan pelayan seperti dia tidak patut diperlakukan seperti itu. Karena itu mereka mengatakan, ” Kami pasti memandang dia dalam kesesatan yang nyata,” yaitu karena meletakkan sesuatu yang tidak pada tempatnya.

Maka ketika perempuan itu mendengar cercaan mereka,” yaitu celaan dan penghinaan, serta penistaan yang ditujukan padanya karena begitu mencintai pelayannya, meski dalam saat yang bersamaan si istri menteri tersebut bisa ditolerir. Karena itu, ia ingin menyampaikan alasan di hadapan mereka (kenapa ia sampai berbuat seperti itu), dan menjelaskan bahwa pelayannya tidak seperti yang mereka kira. Istri menteri ini kemudian mengirim utusan untuk mengundang mereka, mereka kemudian berkumpul di rumahnya, mereka diberi jamuan makanan yang layak, dan di antara tersebut ada makanan yang harus di potong dengan pisau, seperti lemon dan semacamnya.

Istri menteri tersebut memberi mereka semua pisau. Ia juga telah mempersiapkan Yusuf, dan mengenakan pakaian terbaik padanya, selain Yusuf saat itu berada di puncak masa muda. Istri si menteri kemudian menyuruh Yusuf keluar di hadapan mereka dalam kondisi seperti itu. Yusuf kemudian keluar dalam penampilan yang lebih indah dari bulan purnama. [1]

“Ketika perempuan-perempuan itu melihatnya, mereka terpesona kepada (keelokan rupa)nya,” yaitu mereka mengagungkan, memuliakan, dan mereka segan kepada Yusuf, mereka tidak mengira ada sosok manusia sedemikian tampan, keelokan wajah Yusuf membuat mereka terpesona, hingga melukai tangan mereka dengan pisau-pisau itu tanpa mereka sadari, “Seraya berkata, ‘Mahasempurna Allah, ini bukanlah manusia. Ini benar-benar malaikat yang mulia’.”

Disebutkan dalam hadist Isra’. “Aku (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) melintas di hadapan Yusuf, ia diberi separuh keelokan (rupa),” As-Suhaili dan Imam lainnya menuturkan, “Artinya, ia memiliki separuh keelokan rupa Adam, karena Allah menciptakan Adam dengan tangan-Nya, meniupkan ruh (ciptaan)-Nya padanya, sehingga Adam adalah sosok manusia yang paling rupawan. Karena itulah para penghuni surga masuk ke dalam surga dengan postur tinggi dan keelokan rupa seperti Adam. Yusuf memiliki separuh keelokan rupa Adam. Tidak ada yang lebih tampan dari mereka berdua, seperti halnya tidak ada wanita yang lebih cantik setelah Hawa, melebihi Sarah, istri Ibrahim Al-Khalil.”

Ibnu Mas’ud mengatakan, “Wajah Yusuf seperti kilat. Setiap kali ada wanita datang untuk suatu keperluan, Yusuf menutupi wajah.” Yang lain mengatakan, “Yusuf sering mengenakan penutup kepala agar tidak dilihat orang.” Itulah alasan kenapa istri penguasa Mesir sangat mencintai Yusuf, hingga terjadilah suatu peristiwa; para wanita melukai tangan mereka dengan pisau saat melihat ketampanan Yusuf, mereka mengangungkan Yusuf karena wibawa yang ia miliki, mereka tercengang saat melihat Yusuf secara langsung. [2]

“Dia (istri Al-Aziz) berkata, ‘Itulah orangnya yang menyebabkan kamu mencela aku karena (aku tertarik) kepadanya,” setelah itu ia memuji Yusuf sebagai sosok yang menjaga diri secara sempurna. Ia mengatakan, ” Dan sungguh, aku telah menggoda untuk menundukkan dirinya tetapi dia menolak. Jika dia tidak melakukan apa yang aku perintahkan kepadanya niscaya dia akan dipenjarakan, dan dia akan menjadi orang yang hina.”

Para wanita mendorong Yusuf agar menuruti perintah majikan wanitanya, namun Yusuf menolak dengan keras dan menjauh, karena ia berasal dari keturunan para nabi. Yusuf kemudian mengatakan dalam doa yang ia panjatkan kepada Rabb seluruh alam, ” Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh,” yaitu jika Kau menyerahkan urusanku padaku, tentu aku telah terpedaya, aku tidak kuasa untuk memberikan manfaat bagi diriku, ataupun menolak mara bahaya, kecuali yang dikehendaki Allah. Aku hamba lemah, kecuali jika Engkau memberiku kekuatan, menjaga dan melindungiku dengan daya dan kekuatan-Mu.”

Nabi Yusuf Dijebloskan ke Dalam Penjara

Karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Maka Rabb memperkenankan doa Yusuf , dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai waktu tertentu. Dan bersama dia masuk pula dua orang pemuda ke dalam penjara. Salah satunya berkata, ‘Sesungguhnya, aku bermimpi memeras anggur,’ dan yang lainnya berkata, ‘Aku bermimpi, membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung.’ Berikanlah kepada kami takwilnya. Sesungguhnya, kami memandangmu termasuk orang yang berbuat baik.

Dia (Yusuf) berkata, ‘Makanan apa pun yang akan diberikan kepadamu berdua aku telah dapat menerangkan takwilnya, sebelum (makanan) itu sampai kepadamu. Itu sebagian dari yang diajarkan Rabb kepadaku. Sesungguhnya, aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, bahkan mereka tidak percaya kepada hari akhirat. Dan mengikuti agama nenek moyangku; Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub. Tidak pantas bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah. Itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (semuanya); tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. Wahai kedua penghuni penjara! Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa? Apa yang kamu sembah selain Dia, hanyalah nama-nama yang kamu buat-buat baik oleh kamu sendiri maupun oleh nenek moyangmu. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang hal (nama-nama) itu.

Keputusan itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Wahai kedua penghuni penjara, ‘Salah seorang di antara kamu, akan bertugas menyediakan minuman khamar bagi tuannya. Adapun yang seorang lagi dia akan disalib, lalu burung memakan sebagian kepalanya. Telah terjawab perkara yang kamu tanyakan (kepadaku)’.” (Yusuf: 34-41).

Allah menuturkan tentang penguasa Mesir dan istrinya, setelah mengetahui Yusuf tidak bersalah, terlintas dalam pikiran mereka untuk memenjarakan Yusuf hingga waktu tertentu, untuk meredakan komentar-komentar orang terkait kasus ini, agar terkesan bahwa Yusuflah yang menggoda istrinya, hingga akhirnya ia dipenjara karenanya. Mereka memenjarakan Yusuf secara semena-mena dan sewenang-wenang.

Ini termasuk bagian dari takdir yang Allah tentukan untuk Yusuf, bagian dari perlindungan yang Allah berikan padanya, karena dengan cara ini Yusuf bisa menjauh dari pergaulan mereka.

Karena alasan ini, sebagian orang sufi menyatakan, seperti yang dituturkan Imam Asy-Syafi’i dari mereka, “Termasuk bagian dari ‘Ishmah (perlindungan dari perbuatan-perbuatan dosa) adalah jangan merasa sedih!”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan bersama dia masuk pula dua orang pemuda ke dalam penjara.” Ada yang menyatakan, salah satu di antara keduanya adalah pelayan yang biasa memberi minum raja, namanya, menurut salah satu sumber, Nabuwa, yang satunya adalah pelayan pembuat roti, yang oleh orang-orang Turki disebut Jasyinkir. Namanya, menurut salah satu sumber, Majlats. Raja menuduh keduanya terkait suatu kasus, lalu memenjarakan keduanya. Saat keduanya melihat Yusuf berada di dalam penjara, sifat dan perilaku Yusuf membuat keduanya kagum. Seperti itu juga dengan tindak-tanduk, jalan hidup, tutur kata dan perbuatan, banyak beribadah kepada Rabb, dan berbuat baik terhadap sesama yang diperlihatkan Yusuf. Hingga suatu ketika, kedua pemuda tersebut bermimpi sesuai profesi yang dijalani masing-masing.

Ahli tafsir menyebutkan, keduanya bermimpi pada malam yang sama. Pelayan yang biasa memberi minuman raja, bermimpi seakan melihat tiga dahan kurma mengeluarkan dedaunan dan tandan-tandan anggurnya sudah matang. Ia kemudian mengambil anggur itu dan memerasnya di dalam gelas milik raja, lalu memberikannya kepada raja. Sementara pelayan pembuat roti bermimpi, di atas kepalanya ada tiga lapis roti, lalu burung-burung buas memakan roti bagian atas. [1]

Kedua pemuda itu kemudian mengisahkan mimpi itu pada Yusuf dan memintanya untuk menjelaskan takwilnya. Keduanya mengatakan, ” Sesungguhnya, kami memandangmu termasuk orang yang berbuat baik,” Yusuf kemudian memberitahukan keduanya, ia mengetahui takwil mimpi itu. “Dia (Yusuf) berkata, ‘Makanan apa pun yang akan diberikan kepadamu berdua aku telah dapat menerangkan takwilnya, sebelum (makanan) itu sampai kepadamu,” ada yang menyatakan, maknanya adalah meski kalian berdua melihat kesabaran seperti apa pun, aku tetap akan menakwilkan mimpi kalian sebelum mimpi itu menjadi kenyataan, dan akan terjadi tepat seperti yang aku katakan. Menurut yang lain, maknanya adalah aku akan memberitahukan makanan apa yang akan datang kepada kalian, apakah manis ataukah pahit, seperti yang dikatakan Isa, “Dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu.” (Ali ‘Imran: 49).

Yusuf berkata kepada keduanya, “Ini adalah sebagian dari yang diajarkan Allah kepadaku, karena aku beriman kepada-Nya, mengesakan-Nya, mengikuti agama nenek moyangku yang mulia; Ibrahim Al-Khalil, Ishaq dan Ya’qub. ” Tidak pantas bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah. Itu adalah karunia dari Allah kepada kami,” yaitu karena telah menunjukkan kami kepada agama ini. ” Dan kepada manusia (semuanya),” yaitu dengan memerintahkan kami untuk menyeru manusia agama ini, menuntun dan menunjukkan mereka kepadanya, agama yang telah tertanam di dalam fitrah mereka, ” Tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”

Yusuf Mengajak Kedua Rekannya untuk Bertauhid

Setelah itu, Yusuf menyeru untuk mengesakan Allah, mencela peribadatan kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla, menghina berhala-berhala dan mengentengkan hal ihwalnya. Yusuf berkata, “Wahai kedua penghuni penjara! Manakah ynag baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa? Apa yang kamu sembah selain Dia, hanyalah nama-nama yang kamu buat-buat baik oleh kamu sendiri maupun nenek moyangmu. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang hal (nama-nama) itu. Keputusan itu hanyalah milik Allah,” yaitu Dialah yang mengatur makhluk-Nya, berbuat sesuai kehendak-Nya, memberi petunjuk kepada siapa pun yang Ia kehendaki dan menyesatkan siapa pun yang Ia kehendaki.

Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia,” semata tiada sekutu bagi-Nya, ” Itulah agama yang lurus,” agama dan jalan yang lurus, ” Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” yaitu mereka tidak pendapat petunjuk kepada agama ini meski sudah jelas sekali.

Dakwah yang disampaikan Yusuf pada keduanya dalam situasi seperti itu amat sempurna sekali, karena mereka berdua mengagungkan itu, tepat sekali jika Yusuf menyeru keduanya menuju apa yang lebih berguna dari pertanyaan yang mereka ajukan.

Yusuf Menafsirkan Mimpin Kedua Rekannya di Penjara

Setelah itu Yusuf menunaikan kewajibannya dan menuntun menuju tujuan yang dimaksudkan. Yusuf berkata, ” Wahai kedua penghuni penjara, ‘Salah seorang di antara kamu, akan bertugas menyediakan minuman khamar bagi tuannya,” para mufassir menyatakan, dia adalah pelayan yang bertugas memberi minum tuannya, ” Adapun yang seorang lagi dia akan disalib, lalu burung memakan sebagian kepalanya,” para mufassir menyatakanm, dia adalah pelayan yang bertugas membuat roti. ” Telah terjawab perkara yang kamu tanyakan (kepadaku),” yaitu ini pasti terjadi dan tidak mustahil. Karena itu dalam sebuah hadist disebutkan, ” Mimpi seseorang ibarat burung selama tidak ditakwilan. Jika ditakwilkan, mimpi itu menjadi kenyataan.” [2]

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Mujahid, dan Abdurrahman bin Zaid bin Salam, kedua pemuda itu kemudian berkata, “Kami tidak bermimpi apa pun. Yusuf lalu berkata kepada keduanya, ‘ Telah terjawab perkara yang kamu tanyakan (kepadaku)’.”

Permintaan Yusuf Kepada Temannya yang Selamat

Dan dia (Yusuf) berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua, ‘Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.’ Maka setan menjadikan dia lupa untuk menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu dia (Yusuf) tetap dalam penjara beberapa tahun lamanya’.” (Yusuf: 42).

Allah mengisahkan, Yusuf berkata kepada orang yang ia ketahui akan selamat di antara keduanya, dia adalah pelayan yang biasa memberi minum tuannya, ” Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu,” yaitu sampaikan perihalku dan seperti apa kondisiku di dalam penjara kepada tuanmu bahwa aku sama sekali tidak punya salah. Ini menunjukkan, boleh melakukan sebab-sebab, dan hal ini tidak menafikan tawakal kepada Rabb seluruh tuan.

Firman-Nya, ” Maka setan menjadikan dia lupa untuk menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya,” yaitu setan membuat pemuda yang selamat di antara keduanya, lupa akan pesan yang disampaikan Yusuf. Demikian yang dinyatakan Mujahid, Muhammad bin Ishaq dan lainnya. Penjelasan ini benar, dan inilah teks yang tertera dalam kitab-kitab Yahudi Nasrani.

“Karena itu dia (Yusuf) tetap dalam penjara beberapa tahun lamanya,” al-bidh’u adalah bilangan antara tiga hingga sembilam. Pendapat lain menyebut hingga tujuh. Ada juga yang menyebut hingga lima. Ada juga yang menyebut di bawah sepuluh. Demikian penjelasan yang disampaikan Ats-Tsa’labi. Pendapat lain menyebutkan, maksudnya ada beberapa wanita dan beberapa lelaki di dalam penjara.

Masa Penahanan Yusuf

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Karena itu dia (Yusuf) tetap dalam penjara beberapa tahun lamanya.” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ” Dalam beberapa tahun lagi.” (Ar-Rum: 4). Kedua firman ini menolak pernyataan Ats-Tsa’labi di atas.

Al-Farra’ menjelaskan, al-bidh’u bisa digunakan untuk puluhan, dua puluhan, hingga sembilan puluhan. Menurutnya, bilangan berikut tidak boleh bidh’ah-bidh’ah wa isyrun (dua puluh sekian) hingga sembilan puluhan. Dalam kitab Shahih disebutkan, “Imam itu ada enam puluhan sekian cabang.” Riwayat lain; “80 cabang, yang paling tinggi adalah ucapan ‘ La illaha illallah,’ dan yang paling rendah adalah menyingkir ganguan dari jalan’.” [3]

Setelah jika ada yang menyatakan bahwa kata ganti dalam firman berikut merujuk kepada Yusuf, “Maka setan menjadi lupa meneragkan kepada tuannya.” Pendapat ini dhaif, meski diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Ikrimah.

Hadist yang diriwayatkan Ibnu Jarir terkait masalah ini, dhaif dari semua sisi. Hanya diriwayatkan Ibrahim bin Yazid Al-Khauri Al-Makki. Ia perawi matruk (riwayatnya tidak dijadikannya hujah oleh para ahli hadist pent). Riwayat mursal Hasan dan Qatadah juga tidak bisa diterima. Apalagi hadist yang ini. Wallahu a’lam.

Terkait pernyataan Ibnu Hibban dalam kitab shahih-nya terkait faktor yang membuat Yusuf mendekam di dalam penjara selama beberapa tahun sebagai berikut; Fadhl bin Habbab Al-Jumahi mengabarkan kepada kami, Musaddad bin Masrahad bercerita kepada kami, Khalid bin Abdullah bercerita kepada kami, Muhammad bin Amr bercerita kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Semoga Allah merahmati Yusuf. Andai ia tidak mengatakan, ‘ Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu,’ t entu ia tidak mendekam di dalam penjara selama itu. Semoga Allah merahmati Luth, ia berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu kulakukan).(Hud: 80). Beliau meneruskan, ‘Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun sesudahnya, melainkan orang yang paling mulia (nasabnya) di antara kaumnya‘.” [4]

Hadist ini munkar dengan sanad di atas. Muhammad bin Amr bin Alqamah punya banyak hadist yang ia riwayatkan seorang diri dan riwayat-riwayat munkar. Matan di atas termasuk salah satu riiwayat yang paling munkar. Riwayat yang ada dalam kitab Shahihain memperkuat kekeliruan riwayat di atas. Wallahu a’lam.

Raja Membutuhkan Seorang Ahli Tafsir Mimpi

“Dan raja berkata (kepada para pemuka kaumnya), ‘Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus; tujuh tangkal (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering. Wahai orang yang terkemuka! Terangkanlah kepadaku tentang takwil mimpiku itu jika kamu dapat menakwilkan mimpi.’ Mereka menjawab,(itu) mimpi-mimpi yang kosong dan kita tidak mampu menakwilkan mimpi itu.’

Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) setelah beberapa waktu lamanya, ‘Aku akan memberitahukan kepadamu tentang (orang pandai) menakwilkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).’ ‘Yusuf, wahai orang yang sangat dipercaya! Terangkanlah kepada kami (takwil mimpi) tentang tujuh ekor sapi betina gemuk yang dimakan oleh tujuh (ekor sapi betona) yang kurus, tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahui.’

Dia (Yusuf) berkata, ‘Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk makan. Kemudian sete;ah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dimana manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur)’.” (Yusuf: 43-49).

Kisah ini merupakan satu di antara serangkaian sebab yang mengeluarkan Yusuf dari penjara secara mulia dan terhormat. Suatu ketika, raja Mesir, Rayyan bin Walid bin Tsarwan nin Arasyah nin Faran bin Amr bin Amlaq bin Lawudz bin Sam bin Nuh, memimpikan hal di atas.

Ahli kitab menuturkan bahwa raja bermimpi seakan-akan berada di tepi sungai, seakan-akan dari sungai itu keluar sembilan sapi betina gemuk. Kerbau-kerbau ini kemudian makan rerumputan yang ada di sana, setelah itu ada tujuh sapi betina kurus muncul dari sungai itu, lalu ikut memakan rerumputan bersama tujuh sapi betina gemuk, kemudian sapi-sapi kurus itu menghampiri sapi-sapi gemuk lalu memakan semuanya. Raja bangun dari tidurnya dalam kondisi ketakutan. Setelah itu raja tidur lagi. Ia bermimpi ada tujuh tangkai gandum dalam satu ruas, lalu ada tujuh tangkai lainnya yang kurus dan kering, tangkai-tangkai kering ini kemudian memakan tujuh tangkai yang penuh berisi biji gandum. Raja kembali bangun dengan ketakutan.

Setelah ia ceritakan mimpi itu kepada para pemuka kaumnya, juga kepada kaumnya. Tak seorang pun di antara mereka yang bisa menakwilkan mimpi itu. Mereka justru mengatakan, “(Itu) mimpi-mimpi yang kosong,” yaitu hanya sekedar bunga tidur saja, mungkin tidak ada takwilnya. Selain itu, kami pun tidak memiliki pengalaman tentang takwil mimpi. Untuk itu mereka mengatakan. “Dan kami tidak mampu menakwilkan mimpi itu.”

Saat itulah pemuda yang selamat, yang pernah dipesani Yusuf untuk menyampaikan kisah tentangnya kepada tuannya lalu terlupa, sontak teringat. Ini adalah bagian dari takdir Allah, dan Ia memiliki hikmah di baliknya. Saat ia mendengar mimpi raja, dan ia melihat tidak ada orang yang bisa menakwilkan mimpi itu, ia baru teringat Yusuf dan teringat pesan Yusuf untuk sang raja.

Karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan berkatalah orang yang selamat antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) setelah beberapa waktu lamanya,”

Aku lupa, padahal sebelumnya aku tidak pernah melupakan suatu kata-kata pun

Seperti itulah waktu, ia mengabaikan akal

Si pemuda itu kemudian berkata kepada kaumnya dan juga sang raja, “Aku akan memberitahu kepadamu tentang (orang yang pandai) menakwilkan mimpi itu. maka utuslah aku (kepadanya),”yaitu utuslah aku untuk menemui Yusuf. Ia kemudian menemui Yusuf dan berkata padanya, “Yusuf, wahai orang yang sangat dipercaya! Terangkanlah kepada kami (takwil mimpi) tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk yang dimakan oleh tujuh (ekor sapi betina) yang kurus, tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahu.”

Yusuf Menafsirkan Mimpi Raja

Menurut versi Ahli Kitab, setelah pelayan yang biasa memberi minum raja mengatakan seperti itu, raja kemudian memanggil Yusuf. Setelah Yusuf datang, raja menceritakan mimpinya itu lalu ditakwilkan Yusuf. Ini keliru.

Yusuf kemudian mencurahkan segala ilmu yang ia miliki tanpa ia tunda-tunda lagi, tanpa syarat apa pun, juga tidak meminta agar segera dikeluarkan dari penjara. Yusuf segera menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya, dan menakwilkan mimpi yang dialami raja. Yusuf memberitahukan akan terjadi masa subur selama tujuh tahun, kemudian disusul masa kemarau hebat selama tujuh tahun. “Setelah itu akan datang tahun, di mana manusia diberi hujan (dengan cukup),” yaitu hujan turun kepada mereka, tanah kembali subur, dan hidup kembali makmur, “Dan pada masa itu mereka memeras (anggur),” yaitu apa pun yang mereka peras dari tebu, anggur, zaitun, dan lainnya.

Yusuf kemudian menakwilkan mimpi itu dan menuntun mereka menuju kebaikan. Yusuf menjelaskan apa yang harus mereka kerjakan dalam kedua kondisi tersebut; saat masa subur dan masa kemarau. Mereka harus menyimpan biji-bijian tetap berada di tangkainya selama masa subur pada tujuh tahun pertama, selain untuk keperluan makan. Selanjutnya pada masa tujuh berikutnya, jangan menanam biji terlalu banyak, karena besar kemungkinan biji-biji yang ditanam tidak akan tumbuh. Ini menunjukkan ilmu, pandangan, dan pemahaman Yusuf yang sempurna.