Kisah Naik Haji Ibnu Batutah yang Menginspirasi Dunia

Ibnu Batutah dikenal sebagai pengembara Islam yang menaklukkan dunia. Ia menjelajah ke seluruh pelosok bumi. Dimulai pada 1326, Batutah berangkat dari Maroko melintasi Afrika Utara hingga ke Kairo. Sebelum menuju ke Yerusalem dan Damaskus, kemudian ke Madinah dan Makkah.

“Kami berangkat lagi pada malam hari dari lembah yang diberkati (disebut Marr) dengan hati penuh sukacita, untuk mencapai tujuan harapan mereka. Bersukacita dalam kondisi mereka saat ini, dan di keadaan masa depan kemudian tiba di pagi hari di Kota Surety, Makkah (Dewa Mahatinggi yang memuliakannya),” tulis Ibnu Batutah dalam sebuah catatan perjalanannya.

Sebelum mencapai Makkah, dia menghabiskan waktu selama empat hari di Madinah. Saat itu, Ibnu Batutah sudah mengenakan pakaian ihram, yaitu kain putih yang menutupi badannya untuk memenuhi salah satu syarat pakaian ketika akan menunaikan ibadah haji.

Saat tiba di Makkah, dia mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali putaran. Kemudian mencium salah satu batu yang disucikan (Hajar Aswad), sambil berdoa.

“Kami datang kemudian memutari lingkaran (tujuh kali) dan mencium Batu Suci; kami melakukan doa dan melalukan dua rukuk di Maqam Ibrahim, menempel pada tirai Kakbah di Multazam yakni di antara pintu dan Batu Hitam, di mana doa (akan) dijawab. Kemudian kami minum air Zamzam; setelah berlari antara al-Safa dan al-Marwa, lalu kami mengambil penginapan di sana, letaknya di sebuah rumah di dekat Gerbang Ibrahim. ” kata Ibnu Batutah.

Perjalanan Ibnu Batutah ini ternyata menarik ilmuan atau penjelajah lainnya. Misal penjelajah dari Maroko, dia memberikan suatu gambaran yang menarik tentang rukun Islam yang ke lima hampir 700 tahun lalu.

Ziarah tahunan Islam satu ini adalah tema yang paling sering diambil untuk pembuatan seni, puisi dan prosa yaitu menceritakan tentang perjalanan yang berkaitan dengan haji. Mulai dari seorang ahli geografi Andalusia, Ibn Jubayr hingga penjelajah Spanyol Ali Bey El-Abbassi.

Dia pun menulis dengan genre berbetuk teks-teks yang fasih dan deskriptif, sehingga tidak hanya menceritakan tentang sejarah, melainkan tentang perubahan waktu ke waktu tiap tahunnya selama ibadah haji tersebut.

Seorang Profesor di American University of Sharjah, Dr Nuha Al-Sha’ar, mengatakan, ada banyak literatur tentang perjalanan haji saat ini.

“Banyak yang mendokumentasikan perjalanan haji mereka dan oleh karena itu kami memiliki genre literatur perjalanan yang disebut‘ Al-Rihla Al-Hijaziyya ’- perjalanan ke Hijjaz untuk melakukan ziarah. Kami juga memiliki banyak akun perjalanan haji. Perjalanan Ibnu Batutah yang terkenal adalah yang pertama kali (mendokumentasikan) Haji di zaman modern, serta Bint Al-Shati yang terkenal mendokumentasikan perjalanannya ke Haji (di) ‘Ard Al-mu’jizat. ‘ Ibrahim al-Mazini juga mendokumentasikan perjalanan hajinya,” kata Dr Nuha.

Kemudian pada abad ke-14 pertama, seorang teolog dan penulis spiritual Ibn Qayyim Al-Jawziyya meluncurkan sebuah tulisan (puisi) yang berjudul “The Journey of Love” yang mana membahas tentang makna gabungan perjalanan spiritual haji berkenaan dengan batin dan fisik mereka (jamaah).

Puisi itu menggambarkan perjalanan Al-Jawziyya, Ka’bah, Arafah, Muzdalifah dan Mina, tawaf. “Anda melihat mereka, rambutnya berdebu dan acak-acakan,” tulisnya.

“Namun tidak pernah lebih puas, mereka tidak pernah merasa lebih bahagia / Meninggalkan tanah air dan keluarga karena kerinduan suci / Tidak tergerak bagi mereka yang memiliki angan untuk kembali / Melalui dataran dan lembah, dari dekat dan jauh / Berjalan dan berkuda, tunduk kepada Allah.”

Kemudian tentang Kakbah ia berkata: “Ketika mereka melihat Rumah-Nya – pemandangan yang luar biasa / Untuk itu hati semua makhluk ‘dibakar’/ Tampaknya mereka tidak pernah merasa lelah sebelumnya / Karena ketidaknyamanan dan kesulitan mereka kini tidak ada lagi.”

Ibadah Haji adalah jadi bagian kepercayaan paling penting bagi seorang Muslim. Ternyata perjalanan spiritual satu ini jiga menarik para penulis dari tempat lainnya. Seperti Eropa hingga Amerika Utara.