PERJALANAN hidup Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam begitu lekat dengan tokoh raja di Babylonia yang terkenal akan keangkuhannya, yakni Raja Namrud.

Namrud memilik kekayaan yang luar biasa, istana tinggi pencakar langit, bala tentara yang banyak, serta cadangan makanan yang melimpah.

Pada masanya, Namrud ialah seorang raja yang cerdas dan unggul dalam segala hal, karenanya, hal tersebut nyatanya membuat dirinya bersikap sombong, bahkan mengaku sebagai Tuhan.

Abdur Razzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Zaid ibnu Aslam, bahwa kekayaan Raja Namrud melimpah dan tak jarang menjadikan orang-orang mendatanginya untuk meminta perbekalan makanan.

Tak terkecuali Nabi Ibrahim beserta kawanannya yang turut datang untuk menghampiri raja penguasa Babylonia itu guna meminta perbekalan makanan kepadanya.

Setiap orang yang datang ke sana akan ditanya, “Siapakah Tuhanmu?” maka semua orang mayoritas akan menjawab bahwa Namrud-lah Tuhan mereka, dan diberilah perbekalan makanan dari sang raja kepada orang-orang itu. Namun tidak dengan Nabi Ibrahim.

Ketika ditanyakan pertanyaan serupa, ia dengan tegas menjawab, “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang mampu menerbitkan matahari dari timur, atau jika tiba saatnya untuk diterbitkan dari barat,” sanggah Nabi Ibrahim seraya menerangkan betapa besar kekuasaan Allah, Tuhan Semesta Alam.

Mendengar jawaban itu, Namrud terdiam lalu mengusir Nabi Ibrahim tanpa memberikannya makanan sedikitpun. Nabi Ibrahim pulang dengan tangan kosong. Di perjalanan pulang, beliau melewati sebuah bukit pasir yang berdebu.

Maka, ia kemudian berkeputusan untuk mengambil setumpuk pasir berdebu itu untuk dibawa pulang kepada keluarganya, agar dapat menghibur hati mereka.

Sesampainya di rumah, Nabi Ibrahim langsung meletakkan barang bawaannya dan langsung beristirahat. Keesokan harinya, sang istri, Siti Sarah pun terbangun, dan langsung melihat apa yang dibawa pulang oleh suaminya.

Ia pun bergegas mengolah bahan-bahan tersebut menjadi sebuah santapan lezat yang disuguhkan kepada suaminya. Tentu saja Nabi Ibrahim tertegun melihatnya, ia keheranan dari mana sang istri mendapati semua bahan makanan ini. Ia pun tak sabar mendengar jawaban sang istri.

“Dari manakah engkau mendapatkan makanan ini?”, tanyanya. Lalu, sang istri menjawab seketika, “Kudapatkan dari bungkusan yang kau bawa pulang kemarin.”

Sebelumnya

1

2

Nabi Ibrahim menyadari bahwa ini merupakan rezeki dari Allah Ta’ala. Ia yakin bahwa segala keajaiban ini ialah atas izin dan kehendak Allah yang mampu merubah setumpuk pasir berdebu menjadi bahan makanan yang begitu baik dan layak dimakan.

Kisah Nabi Ibrahim dan Raja Namrud ini diabadikan dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 258 yang artinya:

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,’ orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur maka terbitkanlah dia dari barat,’ lalu terdiamlah orang kafir itu dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim,” (QS. Al-Baqarah: 258).

(put)

2

2