Kisah Pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan Ummu Ma’bad

Zaman dulu, penduduk kota Mekkah banyak sekali yang menyembah berhala atau ajaran lain selain Islam. Kala itu disebut dengan zaman Jahiliyah. Zaman di mana masa kegelapan dan kebodohan soal agama. Di mana Agama Islam belum begitu tersebar secara luas di wilayah tersebut.

Dari banyaknya penduduk yang menyembah berhala, keberadaan Islam seakan membuat mereka terganggu. Sejak Nabi Muhammad SAW menyebarkan ajaran Islam di Mekah, banyak sekali pertentangan dan pertikaian yang terjadi. Namun, keberadaan Nabi Muhammad SAW selaku penyebar ajaran Allah SWT malah membuat kerajaan kaum Quraisy jengkel. Sebab, tak sedikit dari penganutnya berpindah ke ajaran Islam yang disebarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Singkat cerita, tekanan dari kafir Quraisy semakin gencar hingga penyebaran Agama Islam di Merah yang sudah berlangsung dua belas tahun itu pun harus membuat Nabi Muhammad SAW berhijrah. Kerajaan kaum Quraisy telah berniat untuk membunuh Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya yang telah masuk Islam. Untuk menghindari itu, pada 622 M, berhijrahlah Nabi Muhammad SAW bersama Abu Bakar ra, Amir bin Fahira, dan seorang penunjuk jalan bernama Abdullah bin Uraiqith dari Merah menuju Madinah.

Dalam perjalanan mereka ke Madinah, para rombongan melihat sebuah kemah dan seorang wanita tua yang sedang duduk di dekat kemahnya di wilayah Qudaid, antara Mekkah dan Madinah. Ia bernama Ummu Ma’bad, si pemilik kemah yang dikenal dermawan.

Saat itu, Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar ra ingin membeli daging dan kurma yang dia miliki. Namun, karena didera musim paceklik, mereka pun tidak mendapatkan apa-apa. Lalu, Nabi Muhammad SAW melihat seekor kambing di kemah Ummu Ma’bad.

Nabi Muhammad SAW bertanya, “Kambing betina apa ini, Ummu Ma’bad?”

Ummu Ma’bad menjawab, “kambing betina tua yang sudah ditinggalkan oleh kambing jantan.”

Nabi Muhammad SAW kembali bertanya, “Apakah ia masih mengeluarkan air susu?”

“Bahkan ia tak mengandung air susu sama sekali,” jawab Ummu Ma’bad.

“Bolehkah aku memerahnya?” pinta Nabi Muhammad SAW.

“Jika engkau merasa bisa memerahnya, silahkan lakukan.” ucap Ummu Ma’bad.

Nabi Muhammad SAW langsung mengambil kambing itu dan mengusap kantung susunya dengan menyebut nama Allah SWT serta mendoakan Ummu Ma’bad. Keajaiban pun terjadi, kambing yang tidak mengeluarkan air susu kini keluar dengan begitu deras. Nabi Muhammad SAW meminta wadah besar untuk menampung air susu tersebut hingga penuh. Tak lupa, beliau pun memberikan air susu itu kepada Ummu Ma’bad dan rombongannya sehingga mereka pun puas.

Sebelum meninggalkan kemah, Nabi Muhammad SAW kembali meminta dua wadah besar dan memerasnya kembali. Setelah penuh, beliau dan sahabatnya pun berlalu meninggalkan Ummu Ma’bad.

Tiba-tiba saja, datanglah sang suami Ummu Ma’bad yang bernama Abu Ma’bad yang sedang membawa seekor kambing kurus dan lemah. Ia tampak kaget melihat ada air susu, lalu bertanyalah kepada sang istri.

“Dari mana air susu ini, wahai Ummu Ma’bad? Padahal kambing ini sudah lama tidak hamil dan kita pun tidak memiliki persediaan susu di rumah?”

Sesungguhnya seseorang yang penuh berkah telah melewati (rumah kita), sifatnya begini dan begitu.”

“Lekas ceritakan kepadaku tentangnya,” kata Abu Ma’bad.

Berceritalah Ummu Ma’bad kepada sang suami, “Aku melihat seorang yang rendah hati. Wajahnya bersinar berkilauan, baik budi pekertinya, dengan badannya yang tegap, indah dan bentuk kepala yang pas sesuai bentuk tubuhnya.”

“Ia adalah seorang yang berwajah tampan. Matanya elok, hitam dan lebar, dengan alis dan bulu mata lebat nan halus. Suaranya bergema indah berwibawa, panjang lehernya idea, jenggot nya tumbuh tebal dan sangat kontras lagi sesuai warna rambutnya; rapi, rata pinggir-pinggirnyaa (dengan jambangnya) dan antara rambut dan jenggotnya bersambung rapi. Jika ia diam, nampaklah kewibawaannya. Jika ia berbicara nampaklah kehebatannya. Jika dilihat dari kejauhan, ia adalah orang yang paling bagus dan berwibawa. Jika dilihat dari dekat, ia adalah orang yang paling tampan, bicaranya gamblang, jelas, tidak banyak dan tidak pula sedikit. Nada bicaranya seperti untaian mutiara yang berguguran.” Lanjutnya.

“Beliau berperawakan sedang, tidak tinggi dan tidak pula pendek. Ia bagaikan sebuah dahan di antara dua dahan. Di antara mereka, penampilannya paling bagus dan kedudukannya paling tinggi. Ia memiliki banyak teman yang mengelilinginya. Jika ia berbicara, maka yang lain pun mendengarkannya. Jika ia memerintah, maka mereka segera melaksanakannya. Ia adalah orang yang ditaati, tidak cemberut dan bicaranya tidak sembarangan.” Ummu Ma’bad melanjutkan.

Itulah penjelas Ummu Ma’bad yang sangat terperinci tentang sifat Nabi Muhammad SAW yang telah dirangkum dari berbagai sumber.