Kisah Rasulullah dan Pembesar Kafir Quraisy

Dalam benak sebagian umat Islam saat ini atau bahkan seluruhnya ketika mendengar istilah Kafir Quraisy akan selalu diasumsikan dengan permusuhan dan kejahatan mereka kepada Rasulullah saw, terutama pada masa-masa sebelum hijrah. Banyak sekali cerita bahwa Rasul dan para sahabatnya menerima persekusi dan perlakuan semena-mena dari kalangan kafir Quraisy selama di Mekah. Akibat dari perbuatan kafir Quraisy tersebut, Nabi Muhammad beserta umat akhirnya angkat kaki dari Mekah dan pergi berhijrah ke Yatsrib atau sekarang dikenal dengan nama Madinah.

Konflik antara Rasulullah dan komunitas Muslim dengan orang-orang kafir Quraisy adalah benar adanya. Sejarah dan ayat al-Quran dengan jelas mencatat bahwa Rasul selalu ditekan oleh para pembesar Quraisy—yang sebagian besar masih punya hubungan kekerabatan–untuk meninggalkan dakwah Islam. Al-Quran surat al-Lahab atau al-Masad, al-Duha dan surat al-Kafirun yang kesemuanya termasuk surat Makiyah, merupakan sebagian contoh bagaimana Rasulullah menghadapi dan menjawab sikap dan penghinaan kafir Quraisy atas dakwah beliau.

Terlepas dari berbagai kasus tersebut, atas status Rasulullah sebagai keponakan dari para pembesar Quraisy, pada kenyataannya relasi antara Rasulullah dengan mereka tidak seperti yang dibanyangkan. Meskipun seringkali diceritakan tentang ketegangan antara kedua belah pihak, akan tetapi perlu diungkapkan bahwa tidak jarang pula Nabi Muhammad saw bersama para pamannya (baca: tokoh kafir Quraisy) asik berbincang dan bercengkerama dengan tanpa ada rasa permusuhan.

Hal ini sebagaimana tercatat dalam al-Quran surat ‘Abasa. Meskipun turunnya Surat ‘Abasa adalah sebagai bentuk teguran Allah swt kepada Rasulullah karena mengabaikan pertanyaan dan kedatangan Abdullah ibn Ummi Maktum, akan tetapi kebersamaan Rasulullah dengan para pembesar Quraisy perlu diberikan catatan tersendiri.

Pertanyaannya kemudian, siapakah pembesar kafir Quraisy yang bercengkerama dengan Rasulullah sehingga melupakan Abdullah Ibn Ummi Maktum? Jawabannya dapat dicari dalam literatur kitab Tafsir dan Sirah . Al-Thabari dalam tafsirnya meriwayatkan dari dua jalur sekaligus.

Pertama, riwayat ‘Aisyah yang bercerita bahwa ayat ‘Abasa diturunkan berkenaan dengan Abdullah Ibn Ummi Maktum yang ketika itu datang kepada Rasul sambil berkata, ajari aku ( arsyidni ). Sedang pada saat itu Rasul sedang bersama para pembesar Musyrik Quraisy sehingga ia mencampakkan Abdullah Ibn Ummi Maktum dan turunlah ayat ‘Abasa ini.

Kedua, secara lebih rinci, Al-Thabari mengambil riwayat dari Ibnu Abbas, ia berkata terkait ayat: ‘Abasa …, pada waktu itu duduk bersama Rasulullah saw Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal bin Hisyam dan ‘Abbas bin Abdul Muthallib dan tampak bahwa Rasul menghormati dan mengharapkan mereka untuk beriman. Seketika itu, datang laki-laki buta Abdullah bin Ummi Maktum mendatangi Rasul untuk meminta dibacakan al-Quran seraya berkata,”Rasulullah, ajari aku apa yang telah Allah ajarkan kepadamu.” Rasulullah tidak menggubris dan tampak raut wajahnya kurang senang atas kehadiran Abdullah bin Ummi Maktum serta tetap menghadap pada para pembesar Quraisy. Setelah selesai urusan Rasul dan hendak pulang, Allah swt mengaburkan pandangan dan menjadikan kepala beliau berat dan menurunkan ayat ‘Abasa.

Imam al-Thabari dengan mengutip riwayat Ibnu ‘Abbas di atas menyebutkan bahwa yang bersama Rasul adalah tiga tokoh besar Quraisy: ‘Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal bin Hisyam dan ‘Abbas bin Abdul Muthalib. Sedang Ibnu Hisyam dalam kitabnya al-Sirah al-Nabawiyah menceritakan bahwa yang bersama Rasulullah adalah al-Walid bin al-Mughirah. Perbedaan tokoh Quraisy yang bersama Rasulullah dalam kisah surat ‘Abasa ini menandakan bagaimana kedekatan dan keterbukaannya dengan para paman beliau dari kalangan Quraisy.

Padahal, baik Utbah bin Rabiah, Abu Jahal bin Hasyim dan al-Walid bin al-Mughirah adalah termasuk tokoh Quraisy yang sangat memusuhi Nabi Muhammad. Hanya Abbas bin Abdul Muthalib saja yang kemudian masuk Islam. Sementara tiga pembesar yang lainnya tetap dalam kekafiran. Bahkan ketiganya mati di tengah pertempuran Badar. Meskipun mereka teramat benci kepada Rasulullah saw, tetapi sikap penghormatannya tidak berkurang sedikit pun dalam konteks pesaudaraan dan kekerabatan. Karenanya ketika datang Abdullh ibn Ummi Maktum, Rasulullah seakan lalai dan enggan untuk menanggapi.

Akan tetapi setelah ayat turun, Nabi Muhammad saw selalu mengutamakan Abdullah Ibn Ummi Maktum dibanding dengan yang lain. Zamakhsyari dalam kitabnya al-Kasysyaf bahkan menjelaskan bahwa setiap kali Abdullah Ibn Ummi Maktum datang Rasul selalu berdiri memuliakannya sambil berkata, “selamat datang bagi orang yang karenanya aku ditegur oleh Tuhanku.” ( marhaban biman ‘atabani fihi rabbi ).

Terakhir, yang perlu ditekankan dan digari bawahi dari latar belakang turunya surat ‘Abasa ini adalah bahwa ketika Rasul berada di Mekah, cerita yang ada tidak hanya tentang pertentangan-pertentangan, akan tetapi juga saling membersamai, saling menghargai dan saling terbuka antar Rasulullah dengan para pemuka kafir Quaisy.