[responsivevoice_button voice="Indonesian Female" buttontext="Audio Baca"]

Atas izin Allah SWT, agama Islam yang di dakwahkan Rasulullah SAW mengalami perkembangan dan penyebarluasan yang cukup pesat. Hal itu membuat para pemuka Quraisy kebakaran jenggot , terlebih dengan kabar yang mereka dengar bahwa Rasulullah SAW akan melaksanakan hijrah. Kaum Muhajirin juga mendapatkan tempat tinggal dan perlindungan dari orang Islam Anshar . darun nadwa

Kaum Quraisy lekas menyiapkan strategi guna mencegah tindakan Rasulullah SAW dengan mengumpulkan para pemuka Quraisy untuk bermusyawarah di Darun Nadwa, sebuah tempat yang didirikan oleh Qushay bin Kilab untuk memecahkan suatu permasalahan kaum Quraisy.

Saat hari yang dijanjikan untuk bermusyawarah tiba, mereka bergegas menuju Darun Nadwah. Ibnu Hisyam dalam kitabnya Sirah Nabawiyah mengatakan bahwa hari pertemuan kaum Quraisy di Darun Nadwah disebut yaumuz zahmah. Sebelum musyawarah dimulai, Iblis menyerupai bentuk seorang lelaki tua berjubah yang terlihat berwibawa sedang berdiri di pintu Darun Nadwah.

Seorang anggota forum yang datang bertanya kepada laki-laki tua tersebut, “Siapakah engkau?” Lalu Ia menjawab, “Saya berasal dari Najd karena mendengar berita musyawarah kalian untuk mencegah Rasulullah SAW. Aku ingin turut serta dalam musyawarah, mudah-mudahan kalian tidak mengabaikan pendapatku.” Lalu orang Quraisy tersebut menjawab, “Tentu saja tidak, silakan masuk.”

Selain kaum Quraisy, non-Quraisy pun menghadiri musyawarah tersebut. Di antara pembesar Quraisy yang hadir dalam musyawarah itu adalah Bani Abd Syams yang diwakili oleh Uthbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah dan Abu Sufyan bin Harb. Dari Bani Naufal bin Abdi Manaf diwakili oleh Thu’aimah bin Adi, Jubair bin Muth’im, dan Haris bin Amir bin Naufal. Dari Bani Abdi dar bin Qushay diwakili oleh Nadhar bin Haris bin Kildah. Dari Bani Asad bin Abdil Uzza diwakili oleh Abu Bakhtari bin Hisyam, Zam’ah bin Aswad dan Hakim bin Hizam. Dari Bani Makhzum adalah Abu Jahal bin Hisyam. Dari Bani Sahm adalah Nubaih dan Munabih putra Al-Hajjaj. Dari Bani Jumah adalah Umayyah bin Khalaf.

Musyawarah pun dimulai. Setiap perwakilan kabilah mulai mempersiapkan pendapatnya masing-masing. Salah satu peserta msuyarawah ada yang menyampaikan usulannya, “Bagaimana kalau kita memenjarakan dan membelenggunya dengan besi sampai ajal menjemputnya seperti seorang penyair Zuhair an Nabighah sebelumnya?”

Mendengar pendapat tersebut, orang tua dari Najd menjawab, “Tidak, itu bukan keputusan yang tepat. Apabila kalian memenjarakannya perintahnya akan sampai kepada para sahabat di balik jeruji besi lalu mereka akan menyerang kalian dan jumlah mereka akan bertambah banyak, coba cara lain!”

Musyawarah pun dilanjutkan, tidak lama kemudian seseorang laki-laki lain mengusulkan, “Bagaimana kalau kita usir Muhammad dari negeri ini, sehingga kita dapat bersatu kembali tanpa memperdulikan kemana ia akan pergi dan apa yang menimpanya.

Orang tua dari Najd itu pun menolak lagi dan berkata, “Tidak, itu bukan keputusan yang baik. Tidakkah kalian lihat ucapan dan tutur manisnya seraya kemampuannya memikat orang? Bagaimana kalau ia mendatangi suatu kabilah Arab, lalu berhasil menaklukkan mereka sehingga pengikutnya akan bertambah banyak? Setelah itu mereka bergerak ke tempat kalian lalu menguasai negeri kalian dan mengendalikan segala urusan kalian? Carilah cara lain!”

Abu Jahal pun kemudian unjuk bicara dengan mengusulkan pendapat yang aneh, “Bagaimana kalau kita ambil seorang pemuda perkasa dari kalangan bangsawan yang paling mulia dari setiap kabilah. Kita beri masing-masing pemuda itu sebilah pedang, setelah itu mereka menyergap dan menebasnya sampai tewas. Lalu kita bisa tenang, sebab diyat pembunuhannya menyebar di semua kabilah dan Bani Abd Manaf tidak akan mampu memerangi semua kabilah. Akhirnya mereka akan ridha dengan diyat lalu kita bayar diyat itu kepada Bani Abd Manaf.”

Orang tua dari Najd menyetujui usul tersebut dan berkata, “Ini usul yang terbaik!” Semua peserta musyawarah di Darun Nadwa itu pun menyetujui usulan tersebut. Usulan gila dari paman nabi sendiri, Abu Jahal, yang tega merencanakan pembunuhan untuk keponakannya sendiri. Paman macam apa, dia! (AN)

Wallahu a’lam.