Cheng Ho merupakan seorang penjelajah asal Tiongkok yang banyak melakukan pelayaran ke berbagai belahan dunia. Cheng Ho berasal dari Provinsi Yunnan di Tiongkok dan lahir dengan nama Ma He dan ia termasuk dalam kelompok suku Hui.

Suku Hui di Tiongkok terkenal sebagai kelompok yang mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam. Cheng Ho merupakan sosok yang sangat pemberani dan tangguh dan kemudian ia menjadi orang kepercayaan Kaisar Yong Lee (kaisar ketiga Dinasti Ming).

Cheng Ho juga akrab disapa Kasim San Bao yang dalam bahasa Fujian juga disebut San Po, Sam Poo. Sehingga ia kini juga terkenal dengan nama Sam Po Kong yang melakukan sebanyak tujuh kali pelayaran termasuk ke wilayah Nusantara.

Ia melakukan pelayaran sebagai perwakilan kaisar Tingkok untuk membangun hubungan baik dengan kerajaan di luar Tingkok. Kisahnya yang melegenda dengan armada lautnya yang besar menjadi perbincangan di seluruh negeri.

Berikut merupakan jejak sejarah laksamana Cheng Ho di nusantara dan pengaruh ajaran islam yang dibawanya.

1. Cheng Ho diangkat menjadi laksamana dan ditugaskan untuk menjelajahi samudera untuk memperluas pengaruh kekuasaan Tiongkok

Laksamana Cheng Ho: Jejak Penjelajah Muslim Tiongkok di Nusantara 1

Saat usianya masih tergolong muda, Cheng Ho dibawa oleh pasukan kekaisaran China yang menyerang sukunya. Kemudian ia diangkat menjadi kasim atau tentara pengawal di Nanying.

Oleh karena keberanian dan kecerdasannya dalam berdiplomasi, ia diangkat menjadi orang kepercayaan Pangeran Yan. Kemudian Pangeran Yan yang kemudian naik menduduki tahta kekaisaran Dinasti Ming memberi tugas baru kepada Cheng Ho dengan mengangkatnya menjadi seorang laksamana.

Sebagai sosok yang pemberani Cheng Ho mengemban tugas untuk menjelajahi wilayah samudera sebagai perwakilan kaisar. Kaisar sangat senang dan bangga sekali terhadapnya karena ini dinilai sebagai salah satu cara untuk mengembalikan kejayaan Tingkok setelah jatuhnya dinasti Mongol di tahun 1368.

Kemudian ia memulai ekspedisinya di tahun 1405 dengan membawa armada laut yang sangat besar sepanjang sejarah. Pelayaran pertamanya meliputi daerah Champa atau kini Vietnam, Jawa, Palembang, Laut Aru, Malaka dan beberapa daerah lainnya.

Perjalanan ekspedisi Cheng Ho merupakan yang terbesar sepanjang sejarah dengan melibatkan ratusan armada kapal dan puluhan ribu orang dalam berbagai keahlian.

2. Laksamana Cheng Ho yang menyinggahi kawasan pesisir nusantara tidak hanya menjalankan misi diplomatik tetapi juga menetap sejenak di kawasan tersebut

Laksamana Cheng Ho: Jejak Penjelajah Muslim Tiongkok di Nusantara 2

Tercatat dalam sejarah bahwa Cheng Ho melaksanakan misi pelayaran sebanyak tujuh kali. Dalam tujuh kali pelayaran tersebut hampir seluruhnya Cheng Ho melewati kawasan nusantara.

Rombongan Cheng Ho sering berhenti sejenak di daerah yang mereka singgahi dan bahkan beberapa anggotanya ada yang menetap dan tinggal di daerah tersebut. Kemudian mereka mengenalkan pengetahuan dan kebudayaan Tingkok dan agama Islam ke penduduk setempat.

Pada abad ke-15 Cheng Ho meninggalkan jejak peradaban khususnya di nusantara. Kelebihan cara diplomasi Tiongkok melalui Cheng Ho menyebabkan ia dapat dengan mudah diterima masyarakat nusantara.

Masyarakat nusantara yang memang memiliki sifat terbuka dapat dengan mudah menerima kedatangan Cheng Ho dengan sama sekali tidak merasa sedang dijajah. Mereka juga merasa diuntungkan dengan adanya perdagangan dan amannya wilayah mereka dari gangguan para bajak laut.

3. Jejak-jejak peninggalan Cheng Ho masih banyak ditemui hingga kini

Laksamana Cheng Ho: Jejak Penjelajah Muslim Tiongkok di Nusantara 3

Dalam catatan sejarah sebanyak tujuh kali pelayaran Cheng Ho menyinggahi daerah Palembang. Ia banyak menumpas bajak laut di kawasan perairan Palembang dan menciptakan ketertiban di kawasan tersebut.

Jejak peninggalannya di Palembang yang terkenal adalah berupa masjid bergaya arsitektur China yang diberi nama mesjid Muhammad Cheng Hoo. Masjid ini didirikan untuk mengenang kunjungan Cheng Ho dan pengaruh agama Islam yang dibawanya.

Jejak peninggalannya ada juga di Surabaya yang juga diberi nama yang sama seperti mesjid yang di Palembang. Mesjid ini juga dibangun untuk mengenang kunjungan Cheng Ho di kota Surabaya. Selain itu, juga terdapat peninggalannya di daerah kecamatan Lasem, Rembang, Jawa Tengah yang memiliki kesenian batik.

Batik lasem di daerah ini menurut sejarah pertama kali diperkenalkan oleh salah satu juri mudi kapal Cheng Ho bernama Bi Nan Un dan istrinya Na Li Ni yang memutuskan tinggal di Lasem.

Kemudian di Semarang juga memiliki jejak sejarah yang terkait dengan armada Cheng Ho yaitu kelenteng Sam Poo Kong. Selain itu juga armada Cheng Ho sempat singgah di Cirebon dan Sunda Kelapa. Di sana ia memberikan peninggalan berupa sembilan piring dengan kaligrafi Ayat Kursi yang masih ada hingga kini.

4. Kunjungan Cheng Ho mendorong proses Islamisasi di sejumlah daerah di Nusantara

Laksamana Cheng Ho: Jejak Penjelajah Muslim Tiongkok di Nusantara 4

Selain diplomasi dan perdagangan memang secara tidak langsung Cheng Ho juga mengenalkan agama Islam ke penduduk Nusantara. Armada Cheng Ho mengunjungi daerah Nusantara yang mengalami peralihan era dari kerajaan Hindu-Budha ke era kerajaan Islam. Cheng Ho yang beragama Islam dan mayoritas rombongannya yang juga pemeluk Islam turut berperan dalam penyebaran agama Islam di sejumlah daerah pesisir Nusantara.

Tiongkok dipercaya menjadi salah satu sumber islamisasi di nusantara melalui pelaut-pelaut asal Tiongkok. Memang bukan tujuan utama Cheng Ho untuk membawa pengaruh islam ke nusantara, karena pada awalnya ia hanya menjalankan tugas diplomatik dan politik. Namun, secara tidak langsung ia dan rombongannya memberi dampak besar terhadap perkembangan islam di Nusantara.

5. Cheng Ho adalah seorang pemimpin yang mampu menaklukkan samudera dengan cara damai

Laksamana Cheng Ho: Jejak Penjelajah Muslim Tiongkok di Nusantara 5

Misi perjalanan Cheng Ho menjelajahi samudera menjadikan banyak jejak-jejak peninggalan Cheng Ho di nusantara. Penjelajahan ini menggabungkan perjalanan bisnis eksplorasi dan diplomasi damai ke berbagai penjuru dunia.

Bukan dengan jalan perang, tetapi Cheng Ho mengenalkan diplomasi dengan pengetahuan dan pertukaran budaya. Selain jejak budaya, ada pula jejak peninggalan yang masih dirasakan hingga kini.

Kami telah mengarungi lebih dari seratus ribu li (sekitar 65.000 km) kawasan air yang luas. Dan memperhatikan banyak gelombang setinggi gunung. Kami juga telah bertatapan dengan wilayah-wilayah yang sangat jauh, dan tersembunyi dalam kabut tipis kebiruan, saat layar-layar kami terkembang laksana awan di siang dan malam hari. ” (Laksamana Cheng Ho, 1371-1435)

Terdapat banyak jejak sejarah dan pengaruh sosial budaya peninggalan Laksamana Cheng Ho. Namun secara umum, kunjungan Laksamana Cheng Ho ke nusantara yang berlangsung damai ikut berperan dalam dua aspek penting perkembangan masyarakat di nusantara.

Pertama, dalam penyebaran agama islam yang dipeluk Cheng Ho dan anggota rombongan ekspedisinya. Kedua, masuknya pengaruh budaya dan peradaban Tiongkok di banyak daerah di wilayah nusantara.