Conrad of Montferrat, seorang bangsawan Italia yang menjadi tentara Perang Salib, sedang mempersiapkan penobatannya sebagai raja Yerusalem, di Tirus, pada bulan April 1192. Ketika berjalan menyusuri jalan sempit kota, ia diserang oleh dua orang yang menyamar sebagai sufi berjubah, yang menikamnya hingga tewas.

Para sejarawan menduga pembunuhnya bukan sufi, tetapi anggota kelompok rahasia yang mendiami benteng pada pegunungan Persia dan Suriah. Agen-agen ini bermarkas di kastil Persia yang di atas pegunungan, Kastil Alamut, dan memiliki spesialisasi pembunuhan dan operasi spionase kepada target yang dipilih.

Mereka biasa menyusup ke belakang barisan musuh dan langsung menyerang target utama, seringkali dengan pisau, dan rela mati untuk misi mereka. Para musuh anggota ini biasa menyebut mereka hashishim atau hashshashin , yang berarti perokok atau pengguna ganja, dan hari ini mereka lebih dikenal dengan istilah Assassins .

Hassan-i Sabbah, tokoh syiah pendiri kaum Nizari Ismailiyah. Foto: Dok. Wikimedia Commons.

Para Assassin yang ditakuti itu berada di puncak kekuasaan mereka di abad ke-12. Salah satu manuskrip gubahan Uskup Agung Tirus abad ke-12 dan pejuang perang salib, William II, memperkirakan jumlah Assassin kala itu sekitar 60.000 dan sangat patuh dengan para pemimpin mereka.

Sejarawan dan pakar Timur Tengah tentang Assassins , Bernard Lewis percaya bahwa hashishim adalah istilah populer di Suriah yang digunakan oleh musuh Assassin untuk mendiskreditkan mereka.

Namun, dalam catatan perjalanan Marco Polo, The Travels of Marco Polo, menyebut para pemimpin Assassin memberikan mereka ramuan–kemudian muncul spekulasi sebagai ganja atau narkoba–untuk merangsang keberanian mereka sebelum melakukan misi pembunuhan.

Asal usul Nizari Ismailiyah dan Assassin

Peta kekuasaan Kekhalifahan Fatimiyah yang berpusat di Kairo, Mesir, selama periode 960-1100 Masehi. Foto: Dok. Wikimedia Commons.

Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada abad ketujuh (tahun 632 Masehi), kaum Syiah mendukung Ali bin Abi Thalib, sepupu dan menantu Muhammad, sebagai pewaris, sementara kaum Sunni mendukung Abu Bakar, teman dan ayah mertua Muhammad.

Ketika mayoritas Sunni menang, Abu Bakar menjadi khalifah Muslim pertama. Ali menjadi khalifah keempat pada tahun 656, tetapi dibunuh pada tahun 661. Putra dan pengikutnya kemudian dibunuh di Karbala pada tahun 680 oleh saingan Sunni. Itu adalah peristiwa penting yang menggembleng tujuan Syiah yang banyak menduduki wilayah di Persia.

Pada abad kedelapan dan kesembilan sebuah faksi Syiah baru, Ismailiyah, yang mengorganisir penafsiran Al-Quran secara esoterik–hanya didalami sekelompok orang yang mendapat mandat–mereka melepaskan diri dari Syiah di awal tahun 700-an. Lalu mereka menciptakan jaringan luas para penyebar ajaran Ismaili secara rahasia.

Pada 909 Masehi, kaum revolusioner Ismailiyah merebut kekuasaan di Afrika Utara. Mereka menaklukkan wilayah Tunis dengan bantuan suku Berber dan mendirikan Khilafah Fatimiyah–berasal dari nama putri Nabi, Fatimah.

Fatimiyah lantas menaklukkan Mesir, dan mendirikan sebuah kota dekat Sungai Nil bernama Al Qahirah atau Kairo pada 969 Masehi. Dari sini, Fatimiyah meluas ke Palestina dan Suriah, membentuk benteng Syiah barat melawan Sunni di Baghdad.

Sisa-sisa Kastil Alamut, markas pada Assassin di Provinsi Qazvin, Iran. Foto: Dok. Wikimedia Commons.

Di pertengahan abad ke-11, kembali terjadi perubahan peta kekuasaan Islam oleh suku Turki dari Asia Tengah. Mereka pun menaklukkan Baghdad pada 1055 Masehi dan mendirikan Kesultanan Seljuk Raya.

Di tengah tekanan kekuatan Sunni, seorang Persia berusia 17 tahun bernama Hassan-i Sabbah memulai pelatihan di kota Persia Rayy untuk menjadi misionaris Ismailiyah dan dikirim ke Kairo saat selesai.

Setelah tiga tahun, Hassan meninggalkan Kairo dan pergi bekerja sebagai misionaris di Persia. Saat mulai muncul keretakan di kalangan Ismailisme Fatimiyah, Hassan mengumpulkan orang-orang Ismaili untuk melawan Seljuk. Ia menciptakan kelompok Syiah baru, Nizari Ismailiyah, yang melahirkan prajurit-prajurit Assassins.

Taktik dan Target

Meski memiliki prajurit yang setia dan kuat, Hassan sadar prajuritnya kalah jumlah dengan Seljuk sehingga tak bisa bertempur langsung. Taktik lain dilakukan: perang gerilya, infiltrasi, spionase, dan pembunuhan yang ditargetkan.

Di dalam Kastil Alamut yang direbutnya tahun 1090–terletak di Pegunungan Elburz di barat laut Teheran modern dan menjadi markas Nizari selama hampir dua abad–ia membuat pasukan khusus setia mengorbankan diri bernama Fedayeen yang efektif mengeksekusi target terpilih.

Ilustrasi Ala al Din Muhammad, seorang imam Nizarī Ismailiyah (berpakaian putih) memberikan ramuan ke para calon Assassin. Tercatat dalam dokumen Travels of Marco Polo antara tahun 1410-1412. Foto: Dok. Wikimedia Commons.

Pada tahun 1092, Assassin yang menyamar sebagai sufi membunuh Wazir Nizam al-Mulk, pemimpin berpengaruh di Kesultanan Seljuk. Lalu, Sultan Seljuk, Malik Shah, juga terbunuh. Serangkaian pembunuhan juga menyasar pada jenderal, gubernur, dan ulama Seljuk hingga menyulut ketakutan dan teror.

Ekspansi Nizari menyebar ke Suriah dan Palestina dan bertepatan dengan kedatangan tentara Perang Salib dari Eropa yang telah menduduki Yerusalem pada 1099. Para Assassin terkadang juga membunuh pihak Eropa ini seperti Montferrant di Yerusalem, tapi juga terbuka membentuk aliansi dengan mereka.

Kejatuhan

Serangan tentara Mongol yang dipimpin Hulagu Khan ke Benteng Alamut tahun 1596 Masehi. Foto: Dok. Wikimedia Commons.

Hassan-e Sabbah meninggal pada tahun 1124, dan kepemimpinan kelompok ini dilanjutkan Buzurg-Ummid yang meninggal tahun 1138. Pada tahun 1160-an kepemimpinan jatuh ke tangan Hassan II, yang memiliki arah teologis lebih keras.

Anak didiknya Rashid ad-Din as-Sinan, pemimpin Nizari di Suriah dan berbasis di Masyaf, berusaha membunuh tokoh sentral Sunni lainnya pada Perang Salib, Sultan Saladin–Sultan Mesir dan Suriah pertama. Saat itu Saladin sedang melakukan perlawanan untuk mengusir musuh dari Eropa, dan mempersatukan Islam–tujuan yang tidak dikehendaki kaum Nizari.

Fedayeen pun dua kali dikirim membunuh Saladin, tetapi ia berhasil melarikan diri. Sebagai pembalasan, Saladin mengepung Kastil Masyaf, namun tak berlanjut ke penyerangan. Meski selamat dari pengepungan itu, benteng Nizari Ismailiyah di Alamut ditaklukkan tentara Mongol pada tahun 1256.

Assassin yang Populer

Poster serial game Assassin’s Creed. Foto: Dok. twitter.com/@assassinscreed

Orang Eropa yang terlibat dalam Perang Salib terus menyebarkan legenda para Assassin usai orang-orang Mongol mengambil alih benteng-benteng Nizari. Kata a ssassin kemudian masuk ke bahasa umum selama abad ke-13 dan ke-14. Dante menggunakannya kata itu dalam puisi epik abad ke-14, The Divine Comedy.

Di Spanyol, kata assassin menjadi akar dari kata umum untuk kata asesinato atau ‘pembunuhan’. Dalam bahasa Inggris modern, assassin memiliki makna khusus sebagai orang yang membunuh untuk tujuan politik. Identitas Assassin kemudian melekat dalam budaya populer, seperti pada seri video game aksi-petualangan Assassin’s Creed.

***

Referensi:

Laman nationalgeographic.com

Laman heritagedaily.com